Terbaru  2 April 2010 - 03:05 WIB

ASEAN

Migrasi akibat politik bumiputra

Ketua DAP, Lim Kit Siang

Inklusif hanya bisa terbukti kalau sistem meritokrasi yang berlaku

Kebijakan pemerintah Malaysia mendahulukan kaum bumiputra oleh oposisi dan beberapa pengamat dianggap sebagai penyebab jutaan tenaga ahli Malaysia memutuskan kerja di luar negeri dan tidak kembali ke Malaysia.

Namun partai pemerintah UMNO menilai jutaan tenaga ahli itu memilih bekerja di luar negeri lebih karena gaji di luar negeri lebih besar, bukan karena kebijakan bumiputra.

Ketika mengumumkan New Economy Policy atau Model Ekonomi Baru hari Selasa (30/3), Perdana Menteri Najib Razak tidak secara eksplisit mengatakan akan menghapus hak istimewa yang dinikmati oleh kaum bumiputra sejak tahun 1971 ketika ayah Najib, PM Tun Abdul Razak mengeluarkan kebijakan Dasar Ekonomi Baru untuk mendistribusikan kekayaan Malaysia secara lebih merata dan mengangkat rakyat Melayu dari kemiskinan.

Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Putar dengan media player alternatif

Dia hanya mengatakan bahwa Model Ekonomi Baru adalah kebijakan ekonomi yang inklusif. Istilah inklusif ini bisa diterjemahkan sebagai kebijakan yang menguntungkan semua golongan ras Malaysia.

Namun pemimpin partai oposisi Democratic Action Party, Lim Kit Siang, meragukan makna inklusif yang diutarakan Najib Razak sebagai kebijakan penghapusan hak istimewa kaum bumiputra yang sudah berlangsung lebih dari 30 tahun.

"Inklusif itu masih sebagai taraf percakapan saja. Masih harus dilihat bagaimana inklusif itu bisa ditunaikan atau dilaksanakan," kata dia.

Selanjutnya Lim Kit Siang mengatakan pihaknya hanya percaya kebijakan inklusif itu memang benar dilaksanakan jika memang sistem meritokrasi diberlakukan.

"Meritokrasi bahwa suatu sistem yang kompetitif, efisien dan yang tidak korup. Semua ini boleh menarik para cerdik pandai sehingga semua bakat-bakat tetap memilih berada di Malaysia."

Migrasi tenaga ahli

Sampai sekarang lebih dari 2 juta kamu cerdik pandai Malaysia migrate ke luar negeri. Dan ini terjadi pada semua kaum, bukan hanya melanda kaum Cina, India saja.

Lim Kit Siang

Saat ini, menurut Lim Kit Siang, Malaysia menghadapi masalah besar yaitu brain drain atau mengalirnya para profesional dan tenaga ahli dari Malaysia ke negara-negara lain.

"Sampai sekarang lebih dari 2 juta kaum cerdik pandai Malaysia migrate ke luar negeri. Dan ini terjadi pada semua kaum, bukan hanya melanda kaum Cina, India saja. Etnis Melayu juga ada yang migrate oleh karena mereka merasa dalam negeri sekarang, sistem yang sekarang tidak memberi peluang bagi potensi yang sebenarnya."

Anggota majelis tertinggi UMNO, Daruk Seri Ali Rustam mempertanyakan alasan yang disebutkan oleh Lim Kit Siang.

"Saya tidak setuju dengan cakap Lim Kit Siang. Mereka tidak kembali ke Malaysia bukan karena politik bumiputra, tapi karena gaji di luar negeri jauh lebih tinggi per jamnya," kata Daruk Seri Ali Rustam yang juga ketua menteri Malaka.

Perdana Menteri Najib Razak ketika mencanangkan Model Ekonomi Baru ini juga menyoroti kualitas tenaga kerja Malaysia.

Dia mengatakan 80% dari angkatan kerja Malaysia saat ini hanya memiliki pendidikan setara dengan lulusan Sekolah Menengah Umum yang menurut Najib "tidak sejalan dengan keinginan Malaysia menjadi ekonomi dengan pendapatan per kapita yang tinggi".

Pemerintah sadar

Malaysia

Daya saing Malaysia mulai turun dibandingkan negara-negara tetangga

Pernyataan ini menurut pengamat politik Dr. Farish Ahmad-Noor adalah salah bukti bahwa pemerintah Malaysia sadar bahwa banyak tenaga trampil dan profesional Malaysia yang memilih berkarya di luar negeri.

Soal tenaga profesional ini tentu saja juga mempengaruhi daya saing ekonomi Malaysia dibandingkan negara-negara tetangganya, walaupun bukan faktor satu-satunya.

Dr. Farish Ahmad Noor dari Rajaratnam School of Internasional Studies, Nanyang Technological University, Singapura, menilai semangat dari Model Ekonomi Baru ini adalah lebih ke arah ekonomi yang bebas, karena sadar bahwa perekonomian yang dikontrol oleh negara tidak bisa berhasil, apalagi dengan bangkitnya perekomian Cina.

"Dengan bangkitnya Cina sebagai satu kuasa ekonomi yang sangat besar, saya rasa pemerintah Malaysia sadar bahwa mereka sangat tergantung pada investasi asing di Malaysia."

Namun menurut Farish, agar investasi asing bisa masuk ke Malaysia, ada dua faktor yang sangat penting yang harus dilakukan pemerintah yaitu membuka ekonomi Malaysia dan kedua, mengundang tenaga kerja Malaysia yang telah berpindah ke negara-negara lain seperti Singapura, Amerika, Eropa, Australia dan lain-lain agar mau kembali ke Malaysia.

Saya tidak setuju dengan cakap Lim Kit Siang. Mereka tidak kembali ke Malaysia bukan karena politik bumiputra, tapi karena gaji di luar negeri jauh lebih tinggi per jamnya.

Dato Seri Ali Rustam

"Karena apa yang saya rasa lebih parah dalam kasus Malaysia adalah begitu banyak profesional dari Malaysia yang berpindah ke negara-negara lain khususnya dari kalangan mereka bukan Melayu atau bukan bumiputra. Karena mereka rasa bahwa mereka tidak mempunyai kebebasan dan peluang yang sama, kalau dibandingkan dengan masyarakat Melayu bumiputra disana."

Brain drain di Malaysia sangat parah, lanjut dia. "Karena kalau kita lihat statistik yang dikeluarkan oleh pemerintah Malaysia sendiri, estimasinya adalah lebih kurang 350 ribu profesional dari Malaysia yang sekarang ini bekerja di luar."

Selain berpindahnya banyak tenaga ahli Malaysia, Farish juga mengatakan pemerintah Malaysia harus bekerja keras untuk menciptakan situasi politik dan sosial yang stabil agar para tenaga ahli dari luar negeri mau bekerja dan hidup di Malaysia.

"Kalau dulu tahun 1990-an ketika pemerintah Malaysia mulai menggerakkan ekonominya ke high information technology, banyak tenaga ahli dalam bidang komputer, dari India datang ke Malaysia. Tetapi untuk menarik lebih banyak lagi tenaga ahli seperti dari Amerika, Australia, India atau pun Cina, mereka harus yakin bahwa bekerja dan hidup di Malaysia itu akan membuat hidup mereka lebih enak dan itu hanya terjadi kalau keadaan politiknya dan keadaan sosialnya stabil," tegas Farish.

Pembakaran beberapa tempat ibadah baru-baru ini karena sengketa penggunaan kata Allah oleh umat Kristen serta pelaksanaan hukuman cambuk terhadap wanita karena selingkuh -walau seorang wanita yang terancam dicambuk karena minum bir mendapat pengampunan- tampaknya tidak akan banyak membantu upaya pemerintah Malaysia mengajak kembali penduduk non-Melayu serta warga asing hidup di Malaysia.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.