Penutupan Dolly: perlindungan anak dan penghasilan?

  • 20 Juni 2014
dolly
Penutupan Dolly mendapatkan penentangan dari para mucikari dan PSK.

Lokalisasi Dolly, Surabaya, kawasan prostitusi yang sudah ada sejak 1960-an secara resmi telah ditutup dengan tujuan untuk melindungi anak-anak yang terkena dampak serta meredam risiko penularan HIV/AIDS.

Pemerintah menyediakan ganti rugi kepada para mucikari dan pekerja seks komersial yang selama ini mendapatkan penghasilan dari lokalisasi itu.

Dengan ditutupnya lokalisasi ini, pemerintah kota Surabaya berjanji untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak di permukiman Dolly-Jarak yang terkena kegiatan perdagangan seks, lewat kerja sama dengan para ahli dari Jakarta.

"Saya amankan karena mereka bercampur dengan perumahan, kawasan lokalisasi yang bercampur dengan perumahan itu berbahaya untuk mereka. Saya sakit mendengar cerita kondisi anak-anak," ungkap Walikota Surabaya Rishmaharini.

Selain menangani trauma psikologis anak-anak, kawasan ini akan dijadikan sentra usaha kecil dan menengah untuk memberdayakan warga.

Sementara rumah-rumah penduduk yang selama ini dijadikan tempat lokalisasi akan dibeli pemerintah kota dengan anggaran Rp20 milliar pada 2015.

Gantungkan hidup

Pemerintah juga mengatakan penutupan kawasan prostitusi ini penting untuk menekan penuluaran HIV/AIDS.

Berdasarkan pemeriksaan dinas kesehatan di Dolly-Jarak dalam waktu tiga bulan terjadi peningkatan jumlah kasus dari 164 menjadi 218 orang.

Namun penutupan lokalisasi ini mendapatkan penentangan.

Anissa dari komunitas warga yang tergabung dalam KOPI (Komunitas Pemuda Independen) mengatakan penutupan lokalisasi akan mematikan roda ekonomi di kawasan tersebut.

Menurut survei yang dilakukan oleh KOPI, lebih dari 14.000 orang ‘menggantungkan hidup’ pada lokalisasi di Gang Dolly dan Jarak, termasuk para pedagang kecil.

"Sepertiga dari belasan ribu itu merupakan anak-anak sekolah yang orang tuanya bekerja atau pun mendapatkan uang dari lokalisasi, bukan hanya PSK, tetapi juga tukang cuci, penjahit, pedagang yang ada di sini," kata Anissa.

Apakah upaya perlindungan anak ini bisa tercapai?

Bagaimana dengan dampak terhadap warga di sekitar yang juga menggantungkan pencaharian dari lokalisasi ini?

Pemerintah menyatakan akan menyediakan ganti rugi, namun sejumlah PSK mengatakan ganti rugi tidak akan cukup memastikan keberlangsungan hidup mereka.

Bagaimana dengan mata pencaharian para mantan PSK ini?

Apakah pembukaan sentra usaha kecil di kawasan ini akan membantu para eks PSK mencari pekerjaan baru?

Tulis komentar Anda di kolom yang disediakan. Jangan lupa tulis nama dan asal kota serta nomor kontak bila Anda bersedia dihubungi BBC untuk komentar yang terpilih.

Berita terkait