BBC navigation

Pemilu legislatif, Anda bersemangat?

Terbaru  4 April 2014 - 22:31 WIB
Pemilu Indonesia

Sebanyak 187 juta lebih penduduk Indonesia memiliki hak untuk memilih.

Rakyat Indonesia akan memberikan suaranya pada Rabu 9 April untuk memilih 560 anggota DPR.

Data Komisi Pemilihan Umum, KPU, memperlihatkan sekitar 187.000 orang memiliki hak suara namun tingkat partisipasi pemilih dalam tiga pemilihan terakhir terus menurun, menjadi 71% pada tahun 2009 dengan 84% pada 2004 dan 93% lima tahun sebelumnya.

Ada 12 partai politik yang akan berlaga, dengan tiga tambahan partai lokal khusus untuk Provinsi Aceh, yang selama beberapa waktu belakangan menggelar kampanye.

Namun lembaga survei Indikator Politik Indonesia mengatakan kampanye parpol kurang efektif dan pemilih akan lebih tertarik pada tokoh.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan salah satu penyebabnya adalah kesulitan para pemilih untuk membedakan partai yang satu dengan yang lain.

Kirim komentar

  • Email: indonesia@bbc.co.uk (mohon sertakan nomor telepon jika Anda ingin suara Anda direkam. Nomor telepon dirahasiakan dan hanya untuk kepentingan Forum BBC Indonesia.)
  • Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Yang mereka lihat adalah rekam jejak ke belakang. Karena rekam jejak partai itu sama-sama korup, kemudian mereka (pemilih) melihatnya figur," kata Burhanuddin.

Kirim pendapat

Apakah Anda memiliki hak pilih dalam pemilihan legislatif kali ini?

Apakah Anda setuju bahwa pemilihan legislatif kali ini lebih banyak didasarkan pada tokoh dan bukan program atau ideolodi partai politik?

Apakah Anda sudah memutuskan untuk memberikan suara pada 9 April atau malah tidak akan berpartisipasi atau masih ragu-ragu?

Dan apakah Anda memiliki harapan tertentu dengan anggota DPR baru yang akan bertugas untuk periode 2014-2019?

Atau Anda termasuk dalam kelompok pemilih yang tidak bersemangat lagi memberikan suaranya, yang jumlahnya terus bertambah?

Kami tunggu pendapat, komentar, dan pengalaman Anda tentang pemilu 2014 dan pilihan pendapat yang masuk akan kami tayangkan di Siaran Radio BBC Indonesia edisi Kamis 10 April.

Ragam Pendapat

"Saya lebih baik golput saja sebab para calegnya banyak tidak bermutu. Tentunya jika mereka nanti duduk di DPR paling ya cuma mengekor saja, lagi pula dari dulu dari jamannya Suharto hingga jamannya SBY tidak ada yang benar-benar membela rakyat. Mereka hanya mementingkan perut sendiri, sampai-sampai mereka tidak malu-malu lagi koropsi secara berjamaah. Saya akan berhenti golput jika hukuman mati sudah benar-benar diterapkan pada koruptor yang korupsinya 100 juta ke atas dan hukuman penjara seumur hidup antara 50-100 juta." Edi Supriyanto, Blitar.

"Selama sistem pemilihan caleg seperti ini ya golput saja. Sistem ini membuat semua caleg yang terpilih jadi korupsi supaya modalnya kembali dan lucunya juga dengan sesama teman partai saja bersaing untuk saling menjatuhkan. Dengan model kayak gini, mana bisa jadi caleg yang baik dan jujur. Omong kosong." Bono Dirosuseno Yuwono, Surabaya.

"Golput untuk caleg tapi nyoblos pilpres. Caleg tidak ada yang kenal dan terlalu ribet. Pilpres nyoblos." Buzztamee, Bandung.

"Golput. Alasannya siapapun yang terpilih tidak ada jaminan tertulis di bawah hukum bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik. Termasuk jaminan tertulis di bawah hukum konsekuensi bila yang terpilih gagal membuat Indonesia lebih baik." Matheus Haryanto, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Mahasiswa dan pekerja perantau tidak didata dan domisili daerah asalnya tidak didata. Kami hampir pasti golput tetapi WNI di luar negeri didata. Bagaimana ini."

Teguh Widyiantoko

"Kalau pemilu legislatif, saya memilih untuk golput saja tapi kalau pemilu presiden saya pastikan saya akan menggunakan hak pilih saya." Abdul Rofiq, Tulungagung.

"Semangat. Sebagai warga negara yang baik, sama-samalah kita ke luar memilih pada masa yang di tetapkan. Kita sama-sma berdoa saja mudah-mudahan yang terpilih natti dapat mensejahterakan rakyat dengan membawa negara Indonesia ini lebih baik dari sebleumnya. Amin. Di Sabah mau milih di mana ya?" Zainal, Sabah.

"Sudah tidak ada harapan lagi untuk mereka." Prayitno, Kendari.

"Golput adalah cara terbaik saya melawan mereka yang cuman Omdo (omong doang). Hormati keputusan saya 'yang golput, itu hak saya'. Jangan anggap saya warga Indonesia emberontak. Saya punya alasan kuat mengapa saya harus golput. Kebohongan di mana-mana kita sudah lihat bersama-sama. Tapi pemerintah terkesan 'mengekang dan memaksa rakyat yang sudah muak dengan janji-janji manis tanpa isi." Hamza Qadrie, Mataram.

"Ya saya pasti ikut nyoblos, TPS pas di depan rumah. Partai yang salah pilih jelas yang nyata-nyata Nasionalis, menjamin pluralisme dan syukur-syukur berani tegas jujur dan sebagainya walau figur tertentu juga membuat saya mencoblos parpol tersebu. Jangan golput saudaraku, pakai hak suara kita karena esok dan masa depan masih ada untuk Indonesia yang lebih baik. salam." A.G. Paulus, Purwokerto.

"Golput. Kinerjanya tidak ada bagaimana bisa. Tahu diri itu perlu. Jadi banyak-banyak ngaca saja buat yang mencalonkan diri." Yanti,

"Memilih simbol partai bukan figur. Jadi masih saja memilih kucing dalam karung. Orang cacat, buta huruf, dan jompo menjadi calon kuat surat suara blanko/rusak. Partai terlalu banyak, caleg apa lagi. Pemilu 2014 sangat tidak efektif karena menelan biaya yang sangat mahal. Hasilnya juga tentu sudah dapat diduga. DPD tidak melalui pintu parpol. Ada bupati, ada gubernur, ada DPR kabupaten, DPR provinsi, DPD mewakili siapa? Pemilu menjadi pesta politik untuk orang-orang yang haus kuasa saja. Petani mending turun ke sawah saja mengusir burung pipit!" Vitalys S., Ruteng.

"Golput. Alasannya siapapun yang terpilih tidak ada jaminan tertulis di bawah hukum bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik. Termasuk jaminan tertulis di bawah hukum konsekuensi bila yang terpilih gagal membuat Indonesia lebih baik."

Matheus Haryanto

"Kurang bersemangat, rencana untuk nyoblos tetap ada tapi bingung soal pilihan. Semua sama saja." Tubuo, Muara Teweh.

"Memang benar kata Pak Burhanudin Muhadi, figur tokoh sangat digandrungi masyarakat, yang sudah tidak percaya denbgan partai. Satu sosok yang fenomenal Jokowi, setiap sudut kota yang kutemui senandungkan nama Jokowi." Surahman, Pemalang-Jateng.

"Sudah memutuskan untuk nyoblos tapi masih belum ada keputusan untuk milih yang mana." Helmy Adrian Ogan, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Saya pilih golput saja. Figur adalah dagangan terakhir dari partai guna meraih suara padahal figur adalah cara terbodoh dan hanya akan mampu meraih suara orang-orang bodoh. Ideologi partai sudah tidak laku dijual karena ideologi partai tak mampu menjelaskan jalan guna lepas dari krisis multi dimensi yang sedang melanda negeri ini. Prestasi partai pun tidak laku lagi dijual karena semua caleg mengidap amnesia kampanye setelah terpilih." Abdul Azis, Tangerang Selatan.

"Sudah kayaknya. Seru juga kok proses coblosnya." Dika Samlawi, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Mahasiswa dan pekerja perantau tidak didata dan domisili daerah asalnya tidak didata. Kami hampir pasti golput tetapi WNI di luar negeri didata. Bagaimana ini." Teguh Widyiantoko, Komuntasi BBC Indonesia di Facebook.

"Salah satu yang golput yaitu saya." Dípúdáýá Áńdáhmú, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Sebenarnya aku awalnya juga berpikir negatif tapi karena aku warga baik dan ingin mengubah negaraku menjadi lebih baik maka aku putuskan untuk ikut memilih. Semoga yang aku pilih lolos dan bersikap dan bekerja dengan baik. Amin." Fmale Djokam Bintang, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Golput karena belum menemukan figur caleg yan jujur, cerdas, dan bertanggung jawab dalam segala hal." Paunk Elang Djawa, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Ogah ah. Golput daripada memilih di pileg mending bobok. Memilih para caleg yang tidak kita kenal sama sekali dan juga belum tentu caleg memperhatikan rakyat. Saat pemilihan memang mereka gencar tapi saat mereka terpilih mereka tidak pernah memperhatikan rakyat. Mereka melupakan rakyat bahkan mereka malas-malasan,parahnya lagi korupsi. Mending tidak usah milih." Erika Rizky Aprilia, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Mending tidur daripada datang ke TPS." Mihardani Tri Adhi, Komuntas BBC Indonesia di Facebook.

"Tadinya mau golput tetapi ternyata muncul yang baik, yang bisa menjanjikan bukan sekedar janji." Sendra Lianto, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.


Komentar

 posting

Yang pertama memberi komentar

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.