Nasib hubungan diplomatik RI-Australia

  • 18 November 2013
  • komentar

Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, menjelaskan alasan pemanggilan Wakil Presiden Boediono dalam kasus dugaan korupsi Bank Century.

Wakil Presiden Boediono, yang saat munculnya

Menurut Ketua KPK "Ada informasi-informasi dari JK yang tentunya harus dikonfirmasi ke Boediono," kata Abraham usai menghadiri Pencanangan Zona Integritas Menuju Bebas KKN di Lingkungan Kejaksaan RI, Jakarta, Senin, 25 November 2013.

untuk mengkonfirmasi keterangan Jusuf Kalla. Mantan wakil presiden yang biasa dipanggil JK itu diperiksa oleh KPK sehari sebelum pemeriksaan Boediono, Sabtu pekan lalu.

Kirim komentar, pendapat, maupun saran Anda terkait respon pemerintah Indonesia atas duagan penyadapan telepon Presiden SBY.

Ragam komentar

"Sebaiknya segala sesuatunya dipikirkan terlebih dahulu, karena segala keputusan tentunya akan ada akibatnya. Berfikirlah secara bijak, secara cerdas." Adum Hirohito Nagano, Jakarta.

"Dari dulu selalu diganggu negara lain. Jangan menyalahkan negara yang mengganggu! Ini semua karena pemimpin kita kurang tegas. Pemimpin kok bisanya curhat." Muawiyah, Surabaya.

"Setiap kejadian pasti ada hikmahnya dan dengan kejadian ini maka Indonesia bisa lebih mengkoreksi diri dalam bidang teknologi terutama telekomunikasi, terlebih lagi dalam keamanan komunikasi." Muslih, Balikpapan.

"Indonesia harus bertindak tegas agar tidak diremehkan negara lain, secanggih apa pun negara yang meremehkan kedaulatan Indonesia maka harus bertindak tegas walupun terus putus hubungan dengan negara tesebut." Ical Rizal, Sampang.

"SBY harus bertindak tegas dan berani supaya Indonesia tidak peranh diinjak oleh negara lain." Bahrie Sada, Kalimantan Timur.

"Pemerintah Australia menganggap sepele masalah penyadapan ini. Oleh karena itu Indonesia harus bersikeras kepada Australia untuk minta maaf atas tindakan yang tidak wajar bagi kerjasama antar negara. Indonesia bangsa yang jujur dan adil, tidak pantas untuk dikhianati. Tunjukkan ketegasanmu pak presiden sebagai pemimpin negara. Kami warga Indonesia selalu mendukungmu." Nguntoronadi, Wonogiri.

"Ambillah jalan yang bijak untuk menyikapi negeri kangguru itu! Ibarat main bola, 1 -1 jangan 0 - 1." Norsalihon, Banjarmasin.

"Ini adalah momen terbaik bagi Indonesia untuk menunjukkan di mata dunia internasional tentang kebesaran, keberanian dan kemandirian bangsa jika diremehkan bangsa lain." Muhammad Adlan Badwi, Takalar.

"Untuk apa kita menjalin hubungan kalau kita dikhianati. Australia harus minta maaf secara terbuka, mengakui kesalahanya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Yudi, Bukittinggi.

"Indonesia adalah negara besar yang berdaulat dan seharusnya tegas. Putus hubungan diplomatik dengan Australia." Jefri, Malang.

"Penyadapan yang dilakukan terhadap pemimpin merupakan hal yang menghina pemimpin dan rakyatnya. Dan ini tidak sesuai lagi dengan UUD 1945 yang menjaga ketertiban dunia dalam tanda kutip kerahasian negara yang berdaulat. Jadi sebaiknya pemuda/i Indonesia siap untuk perang teknologi. Indonesia hanya konsumen saja dalam bidang teknologi tidak ada yang mendukung dalam bidang teknologi apalagi kurikulum sekarang meniadakan pelajaran berteknologi." Boel, Padang.

"Indonesia harga mati, perang saja. Kami siap walaupun hanya bambu runcing." Ruslan Syalam, Gorontalo.

"Sudah, kita tegakkan wibawa kita. Buat apa kita punya bendera, merah darahku, putih tulangku. Buktikan kalau kita bisa, ingatlah bahwa harga diri itu penting." Unying, Kalimantan.

"Berulang kali Australia melukai hubungan dengan Indonesia, saatnya bersikap tegas kita memiliki harga diri terbukti darah pahlawan yang mengalir sebagai bukti negeri ini memiliki harga yang mahal dan tak satu negara pun yang boleh menginjak-injak harga diri negeri ini. Ayo putra terbaik negeri ini Anda memiliki kapasitas untuk melakukanya, putuskan saja hubungan dengan Australia. Usir pengkhianat ke kandangnya." Samsuri, Purwakarta.

"1. Hapus hubungan sama Australia 2. Usir Dubes Australia yang berada di Indonesia 3. Perangi saja Australia. Dulu waktu presidennya Soekarno, Indonesia ditakuti sama negara Amerika Serikat, Inggris dan negara maju lainnya. Masa sama Australia tidak berani." Riki Irawan, Bandung.

"Suruh pulang orang-orang Indonesia yang berada di Australia. Kita perangi saja itu negara. Kalah menang belakangan bos." Bunbun, Ngabang-Kalimantan Barat.

"Indonesia dipandang rendah oleh negara Australia dan berapa banyak lagi negara yang belum kita ketahui. Ambil langkah tegas dengan pencabutan hubungan diplomatis sebagai pelajaran buat bangsa ini. Menggunakanlah produk sendiri tidak perlu membeli teknologi dari negara lain yang akhirnya ditanamkan alat penyadap pada alat komunikasi didalamnya." Cahyo, Surabaya.

"Kepala BIN perlu ditegur." Imron Sodiqin.

"Indonesia mungkin sudah biasa diinjak-injak makanya negara lain pada berani. Indonesia sekarang beda pengaruhnya sama Indonesia waktu zaman Soekarno." Abdull Jabier, Jakarta.

"Masalah ini harus dicermati secara bijak dan logis, jangan sampai hanya menjadi berita yang memang di kendalikan oleh para penguasa di Indonesia sendiri karna negara kita terkenal dengan negara yang sering sekali menggalihkan masalah nasioanal dengan masalah internasional untuk merubah kiblat masalah yang sedang gencar di Indonesia, seperti masalah korupsi yang belakangan mulai membidik para penguasa di negeri ini." M Ulfatul Akbar, Bima.

"Pertama, presiden menelpon PM Australia menanyakan kebenaran hal tersebut. Kedua. kirim mendagri untuk klarifikasi dengan membawa sejumlah pertanyaan dan ketiga, adakan sesi debat di DPR. Keempat: buat perjanjian anti penyadapan dengan Australia." Iskandarsyah, Pekanbaru.

"Indonesia negara yang punya segalanya. Siapa yang tidak takut dengan Indonesia. Banyak negara luar yang mengincar Indonesia. Yang dibutuhkan Indonesia hanya pemimpin cerdas dan berani. Indonesia untuk kedepan digadang-gadang akan menjadi negara super power. Tinggal tunggu saja pemimpinnya. Jaya Indonesia." Octo Herdiyan, Jember.

"Semua itu bermula dari kilang minyak Montara yang meledak di Laut Timor. RI memang banyak mengalami kerugian namun yang namanya persahabatan haruslah terjalin karena kita saling membutuhkan. Jangan putuskan hubungan diplomatik dengan negara Australia karena akan bisa menyebabkan permasalahan berkepanjangan. Sebab negara kangguru itu merupakan bagian dari Negara Persemakmuran Britani Raya atau Inggris." Jonson, Aek Kanopan.

"Hmmm...pusing kita jadinya. Coba saja presiden kita kaya Soekarno: gagah dan berani pasti negara lain tidak berani kayak gini. Pak SBY terlalu lemah dan powernya kurang. Tegas dan power dong biar kami senang mendukungnya." Budiawan, Bandung.

"Sudah putus hubungan saja pak." Fitri, Jakarta.

"Dari dulu Australia selalu intervensi urusan dalam negeri Indonesia, mulai dari Maluku, Papua, Aceh, Timor Timur hingga sekarang penyadapan. Australia memandang Indonesia sangat remeh sekali, Australia mengerti Indonesia tidak akan berbuat keras. Indonesia lemah maka Australia tidak akan pernah minta maaf. Australia sahabat yang biadab, menusuk dari belakang!" Tresna Nano, Cirebon.

"Indonesia negara damai tertera dalam UUD 1945. Australia sangat disayangkan bertindak yang merusak citra baik dan ini harus cepat diselesaikan. Sangat membahayakan negara kita sekarang dan ke depannya. Juga menyangkut harga diri bangsa di mata dunia. Dasar Australia negara pintar-pintar tapi bodoh." Luth, Pekanbaru.

"Selain memanggil Dubes RI untuk Australia, sebaiknya Indonesia minta pernyataan resmi dari Australia tentang penyadapan tersebut." Deni Hermawan, Jakarta.

"Palingan cuma gertak sambal saja. SBY bisanya omong doang! Buktikan timbang banyak berkoar-koar nggak ada bukti nyata! Jadi pemimpin kok melempem bisa kecolongan..." A Tio Kusuma, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Indonesia adalah bencong atau banci. Dubes Indonesia hanyalah wayang golek, tidak ada arti. Indonesia terbukti sangat lemah dalam kebijakan luar negeri tetapi Indonesia sangat berani dalam bertindak terhadap rakyat sendiri. Inilah Indonesia yang sebenarnya." Tantra Wali, Banda Aceh.

"Usir Duta besar Australia sebagai bentuk protes hingga Australia meminta maaf secara terbuka. Jika hanya memanggil dubes kita pulang tapi membiarkan dubes mereka tetap di Jakarta, ya sama saja bohong. Itu dubes masih bisa nyambi jadi inteljen. Aneh mereka yang sadap kita kok malah dubes kita yang kita tarik. Dubes mereka lah yang kita suruh pergi!" Ian, Jakarta.

"Seandainya ada sebagian data penyadapan terkait dengan kasus Bank Century dan kasus Hambalang?" Dismas Rienthar, Yogyakarta.

"Penyadapan harus ditanggapi dengan perang karena beritanya diketahui dunia, karena kedaulatan negara di atas segalanya. Kalau kita tidak tegas apa kata negara-negara lain yang menganggap Indonesia tidak punya wibawa dan harga diri. Apabila kejadian penyadapan dianggap masalah tidak serius akibatnya adalah kedaulatan negara selalu diremehkan bangsa lain." Karnadi, Tangerang Selatan.

"Sudahlah perangi saja." Mahrus, Jeddah.

"Sebaiknya jangan ada pemutusan hubungan diplomatik. Banyak orang kita yang ingin belajar disana dengan tujuan untuk membangun negara kita dan untuk memajukan ekonomi Indonesia. Pasti ada cara lain yang tidak akan merugikan negara kita." May Sunday, Batam.

"Persona non grata saja dubes Australia di Jakarta sebagai tanda kita serius." Junaedi, Cikarang.

"Mengumpulkan data adalah,tugas dari para duta besar dan kalau melanggar peraturan negara setempat itu adalah tanggung jawab para dubes. Yang penting Indonesia berani bertindak atau tidak? Dan kenapa tidak bisa menghentikan kegiatan tersebut. Rasanya biasa juga dilakukan oleh Indonesia dan kalau dibajak omongan biasa kenapa mesti takut. Kalau omongan korupsi dan lain lain boleh takut. Jika tidak jaga jangan sampai dibajak lagi, masak tidak bisa!" Andre M , Philadelphia.

"Putus hubungan dengan Australia, titik." Bambang, Bogor.

"Putusin aja Pak SBY hubungan diplomatik sama 'kangguru..." Yaya , Jakarta.