Merenung kemerdekaan Indonesia

  • 16 Agustus 2013
  • komentar
Indonesia
Ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 6% sementara sebagian dunia dilanda krisis keuangan.

Republik Indonesia memasuki usia kemerdekaan yang ke-68 tahun pada Sabtu 17 Agustus 2013.

Acara rutin pun di gelar, di Indonesia maupun di kedutaan besar Republik Indonesia di berbagai negara.

Seperti biasa pula Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato di DPR dan disusul peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara.

Dan memasuki usia 68 tahun, Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai di kisaran 6%, sementara sejumlah negara di kawasan Eropa sedang berjuang pulih dari krisis ekonomi.

Itu jelas sebuah prestasi walau pada saat bersamaan sejumlah masalah masih terus membayang-bayangi, antara lain korupsi, penegakan hukum, distribusi pendapatan, maupun keamanan -yang antara lain tercermin dari tewasnya dua aparat polisi dalam waktu 10 hari.

BBC Indonesia ingin menghimpun perenungan Anda tentang kemerdekaan. Apakah misi dan visi saat proklamasi 68 tahun lalu sebagai sebuah negara kesatuan yang sejahtera sudah tercapai?

Atau apa pendapat Anda tentang prioritas yang harus dicapai Indonesia untuk masa depan, apakah pemberantasan korupsi atau pertumbuhan ekonomil yang lebih tinggi, misalnya.

Mungkin Anda ingin sekedar berbagi kesan perasaan kebanggan sebagai warga negara Indonesia dalam komunitas internasional.

Kami tunggu dan pilihan pendapat, komentar, atau kesan akan disiarkan Kamis 22 Agustus.

Ragam pendapat

"Pendapat saya sebagai seorang pelajar Indonesia adalah seharusnya di usia yang tengah diinjak ini, Indonesia mampu berbenah dalam segi apapun. Jangan hanya mengumbar janji atau saling menyalahkan. Kini saatnya untuk meningkatkan keamanan, kesejahteraan, juga perekonomian di Indonesia. Berantas pula para kriminal-kriminal yang ingin 'mencuri' aset bangsa. Jangan hanya ingin 'menikmati' apa yang Indonesia miliki tapi juga harus mampu menjaga serta merawatnya." Assyifa Narulita, Pangandaran.

"Saya bukan pemerhati yang mumpuni. Tetapi saya prihatin dengan etika generasi muda. Di pelosok desa sudah jarang ditemui kesantunan. Apapun usaha yang kita buat, tak akan ada artinya meski usia negeri ini bertambah. Generasi penerus yang harus dibenahi. Hallo yang berwenang di dunia pendidikan. Bagaimana kalau etika dimasukkan lagi dalam kurikulum SD sampai SMA. Agar tercetak anak-anak beretika. Jenius bisa digeber semasa kuliah. Beretika harus mulai sejak dini." Endahsandy, Kediri.

"Selama korupsi masih ada di negeri Indonesia maka kemerdekaan hanyalah wacana. Peringatan kemerdekaan yang setiap tahun dikumandangkan tanpa makna apa-apa hanya seremonial belaka karena pemimpin yang diberi amanah tidak menjalankan yang tertera di Undang-undang Dasar 1945." Wahjoe, Nganjuk.

"Tidak mudah memang membangun negara kepulauan dengan beragam budaya dan bahasa. Tentu tingkat kesuburan tanah dan sumber yang tidak merata dan hal itu juga menjadi salah satu faktor." Aji EsKa, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Saya masih ingat pidato mantan presiden Soeharto pada tahun 1993, katanya memasuki tahun 2000 Indonesia tinggal landas. Tapi apa buktinya? Malah kondisi bangsa ini kian terpuruk. Banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan sementara yang kaya terus bertambah kaya. Kesenjangan sosial ekonomi dalam masyarakat amat besar." Tonny Rahu, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Alhamdulillah, Dirgahayu RI ke-68. Bangga menjadi WNI yang telah membangun NKRI hingga maju seperti terlihat kini. Tugas berikut Bangsa Indonesia adalah memilih salah satu putra/i terbaik menjadi Presiden RI masa 2014-2019. RI1 mempunyai karakter jiwa luhur yang akan menjadi panutan seluruh rakyat secara moral, jasmani, rohani guna memimpin pembangunan NKRI menuju negara maju, adil, makmur, loh jinawi. Merdeka, Merdeka, Merdeka." Kariem Lee, Yogjakarta.

"Sudah 68 tahun merdeka, bukan berarti rakyat Indonesia hidup berkeadilan apalagi sampai berkemakmuran. Indonesiaku hebat, namun Indonesiaku rapuh. Sumber daya alam berlimpah bukan jaminan, karena para pengambil keputusan adalah 'calo' sesungguhnya. Alih-alih membangun, semua kebutuhan pokok dikondisikan atau dipaksa impor. Penegakan hukum yang tebang pilih semakin menambah kebobrokan demi kebobrokan. Dirgahayu RI ke-68. I Love Indonesia. Wahai pemangku jabatan, jangan jadikan bangsa ini penjajah apalagi terhadap rakyatnya." Kristianus Noeng, Jakarta.

"Selama 68 tahun perjalanan kemerdekaan Indonesia, ada catatan yang patut direnungkan. Yaitu hubungan pembangunan ekonomi dengan kesejahteraan sosial. Selama ini, ada diskoneksitas antara keduanya. Apa gunanya pertumbuhan ekonomi 6%, kalau kebijakan sosial yang diambil tidak fokus dalam meningkatkan kemakmuran warga negara Indonesia. Apa gunanya pertumbuhan ekonomi tinggi, kalau ada ibu rumah tangga yang berusaha bunuh diri bersama dua anaknya karena tidak mampu. Raskin saja mereka tidak dapat." Yusron, Kediri.

"Mari juga kita mengingat Cut Nyak Din (CND). Setelah bertahan lama di hutan, CND tertangkap oleh Belanda karena informasi sahabatnya sendiri kepada Belanda, yang seolah-olah dia kasihan pada CND yang hidup terasing di hutan. CND akhirnya meninggal dan dikuburkan di Sumedang, jauh dari tempat perjuangannya. Apa maksud Belanda memakamkan CND jauh dari kampungnya? Dengan cara ini Belanda berhasil meredam semangat juang bangsa untuk meneruskan perjuangan bangsa terhadap penjajah Belanda. Seiring dengan jaman kemerdakaan, pola Belanda ini tanpa disadari kita ikuti. Bagaimana kita mengadili tokoh publik yang dianggap bersalah sebelum pembuktian di meja hijau? Dengan menempatkan tokoh tersebut pada penilaian publik dan menjadikannya hujatan, telah mempermudah proses untuk menjatuhkan vonis bersalah di meja hijau. Begitukah cara kita memvonis seseorang?. Bukankah motto kita ' justice for all'. Semoga jadi renungan kita." Denny Indrawan, Bandung.

"Usiaku pengalaman hidupku, banyak hal yang diperjuangkan dalam awal kelahiranku. Tidak peduli bagaimana keadaan mereka tapi aku tahu yang mereka lakukan merupakan sebuah keikhlasan nyata untuk kemajuan bangsa tapi kenapa sekarang banyak yang tidak sayang padaku. Tanah airku mereka gadaikan kepada orang asing, kekayaanku masih tetap terjajah, bumiku dihabiskan demi kepentingan pribadi. Renungkan saudaraku. Indonesia ku jaya." Rizkie Aji Saputra, Bumiayu.

"Indonesia sudah merdeka 68 tahun lalu tapi pemerataan pembangunan belum diperhatikan pemerintah. Di daerah saya, listrik dan jaringan telepon belum bisa diakses. Mohon hal ini diperhatikan pemerintah." Christian Umbu Riada, Waibakul.

"Di usia saya yang masuk dekade enam, saya merenung dan mempraktekkan hidup untuk selalu berusaha menegakkan kebaikan, kebenaran, kejujuran, keadilan, serta persaudaraan bebas sara dengan berlandaskan moral yang terangkum eksplisit pada dasar negara Pancasila. Dengan usaha yang benar dan proses yang tidak instan mari saudaraku sebangsa dan setanah air kita perangi kemiskinan, kebodohan, kemelaratan, dan ketidakadilan di lingkungan kita dengan tugas fungsi dan peran kita masing secara baik dan benar." AG Paulus, Purwokerto.

"Kurun waktu yang cukup panjang dilakoni bangsa. Pengorban dalam revolusi fisik, baik materi maupun air mata, bahkan darah tertumpah pula menyirarami ibu pertiwi. Jangan pernah lupakan pengorbanan dan amanah para pejuang. Mari instropeksi dan evaluasi diri. Sudahkah kita benar-benar merdeka, mandiri, sejahtera serta berdaulat sebagai suatu bangsa. Ataukah selama ini telah mengkhianati cita-cita amanah para pendiri bangsa. Perlu kejujuran pula." Rakean Agung, Tangerang.