Memberantas perbudakan modern

  • 6 Mei 2013
Pabrik panci
Warga berdatangan untuk melihat lokasi pabrik panci yang digerebek aparat di Tangerang.

Polisi akan memanggil oknum aparat Polri dan TNI yang diduga terlibat dalam praktik perbudakan di pabrik peralatan dapur Tangerang.

Sejauh ini tujuh orang telah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk pemilik dan mandor pabrik yang digerebek pada Jumat (03/05). Sekitar 30 buruh ditemukan dalam kondisi tidak terurus dan tertekan.

Mereka dipaksa bekerja sekitar 16 jam dalam sehari dan tidak diperbolehkan menjalin kontak dengan dunia luar. Mereka juga mengaku tidak menerima gaji.

Juru Bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa ada oknum aparat yang sering terlihat di lokasi pabrik.

"Untuk pendalaman, kita akan panggil, akan periksa juga sejauh mana pertemanannya itu. Kita periksa yang dari polisi dulu baru dari TNI," kata Rikwanto.

Kasus terungkap setelah dua buruh berhasil kabur dan melapor kepada pihak yang berwenang termasuk Komnas HAM.

"Waktu mendengar cerita mereka saya sampai berkali-kali bertanya, masa iya hari gini masih ada kasus begitu?" kata Ketua Komnas HAM, Siti Nurlaila.

Pendapat Anda

Bagaimana pendapat Anda tentang dugaan perbudaan di pabrik peralatan dapur di Tangerang?

Apakah praktik seperti itu biasa terjadi, misalnya di kawasan-kawasan industri kecil?

Bagaimana mengatasinya?

Kirim pendapat Anda untuk Forum BBC Indonesia yang disiarkan di radio setiap Kamis pukul 1800 WIB dan juga dapat disimak melalui internet BBCIndonesia.com.

Tulis komentar Anda di kolom yang disediakan di bawah ini. Jangan lupa cantumkan nama dan asal kota Anda.

Cantumkan nomor telepon bila Anda bersedia dihubungi BBC apabila komentar Anda terpilih.

Ragam komentar

"Perbudakan atas buruh warga negara Indonesia banyak terjadi, baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri seperti yang terjadi di Tangerang, saya pikir itu merupakan fenomena gunung es, yang nampak itu hanya permukaannya saja, yang sebenarnya jauh lebih parah dan mengerikan. Buruh kita di perkebunan kelapa sawit di negara-negara tetangga, juga tidak jauh berbeda. Saya pikir inti masalahnya adalah karena sempitnya lapangan pekerjaan, pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi warganya. Padahal menurut saya, pemerintah bisa menyediakannya, asal memiliki good will ke arah sana, banyak keuangan negara yang dihambur-hamburkan yang sebenarnya tidak menyentuh kebutuhan dasar warga negaranya." Juskardi, Bogor.

"Lagi-lagi aparat terlibat. Aparat yang seharusnya menjadi pengayom rakyat bawah malahan melakukan KKN baik dengan aparat pemerintahan (lurah) maupun dengan pengusaha. Seharusnya lurahnya juga diperiksa karena ada warganya yang melakukan tindakan sewenang-wenang dibiarkan bahkan terkesan ditutupi." Lartri Utomo, Yogyakarta.

"Selama ini yang sering terdengar adalah kekejaman majikan d luar negeri khususnya TKW, tapi tidak disangka di negeri sendiri masih ada RT, RW-nya bahkan kepala desa pun masih juga kecolongan. Pabrik yang bersangkutan beroperasi dengan nyantainya tanpa tercium dari pihak luar pastinya karena tertutup rapi oleh mereka yang sepertinya berkuasa di tempat itu. Kepada yang berwajib semoga ini menjadi pelajaran untuk lebih memperhatikan penderitaan kaum lemah, dan untuk yang terlibat sengaja melakukan pelangaran hukum harap dihukum seberat-beratnya dan harap kerahkan aparat sebanyak-banyaknya untuk menyelidiki ke pelosok tempat yang dicurigai. Dan masyarakat pun harus melaporkan ada hal-hal mencurigakan di sekitarnya. " Alex, Hong Kong.