Vonis penjara untuk Umar Patek

Terbaru  21 Juni 2012 - 22:40 WIB
Umar Patek

Umar Patek sempat menjadi buron selama 10 tahun dan ditangkap di Pakistan.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara terhadap Umar Patek atas perannnya dalam pengeboman Bali tahun 2002.

Dalam sidang selama belasan jam yang dipimpin Encep Yuliadi pada Kamis (21/06), Umar Patek dinyatakan terbukti bersalah melanggar enam dakwaan berlapis yang dikenakan jaksa penuntut umum.

"Menjatuhkan pidana penjara 20 tahun, dikurangi masa penangkapan dan penahanan," kata Encep Yuliadi di penghujung pembacaan vonis setebal 270 halaman.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim ini lebih rendah dibandingkan dengan tuntutan yang diajukan jaksa penuntut umum. Jaksa menuntut terdakwa Patek dengan hukuman penjara seumur hidup.

Majelis hakim masih melihat sejumlah hal meringankan, antara lain Patek mengakui perbuatannya.

Menanggapi vonis hakim, Umar Patek dan jaksa penuntut akan menggunakan waktu selama tujuh hari untuk mengambil keputusan.

"Kami sangat kecewa dengan putusan 20 tahun. Kalau lihat fakta hukum bahwa ada keterpaksaan Umar Patek dalam kasus bom Bali dan bom Natal," kata pengacara Umar Patek, Asludin Hatjani.

Umar Patek yang menggunakan nama berbeda-beda ini sempat menjadi buron selama sekitar 10 tahun dan ditangkap di Abbotabad, Pakistan pada 25 Januari 2011.

Pendapat Anda

Kami tunggu partisipasi Anda

  • Isi kolom yang tersedia
  • Email: indonesia@bbc.co.uk
  • SMS: +44 77 86 20 00 50 (tarif sesuai operator telepon Anda)
  • Facebook: BBC Indonesia

Bagaimana komentar Anda tentang vonis terhadap Umar Patek?

Apakah hukuman 20 tahun penjara tersebut terlalu ringan dan apa alasannya?

Apakah permintaan maaf Umar Patek kepada korban dan keluarga karena melakukan peledakan bom di Bali menjadi faktor yang membuat vonisnya lebih ringan dari tuntutan jaksa?

Apakah Indonesia lebih aman setelah sejumlah orang penting yang terlibat dalam aksi terorisme telah dihukum bahkan dieksekusi?

Isi kolom di bawah untuk mengirim pendapat Anda. Jangan lupa untuk mencantumkan nomor telepon Anda agar kami bisa menghubungi dan merekam pendapat Anda.

Pendapat yang terpilih akan disiarkan dalam acara Forum di Radio BBC Indonesia dan di internet BBCIndonesia.com.

Ragam komentar

"20 tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah hukuman. Pengakuan dan penyesalan Umar Patek merupakan kemenangan terhadap terorism dan radikalisme bahwa sang "gembong" akhirnya mengaku salah, meminta maaf dan menyesal. Ini merupakan kampanye yang bagus melawan terorisme. Memang banya pihak khusunya para korban meminta pelaku dihukum mati. Tetapi hukuman mati tanpa penyesalan yang terjadi pada Imam Samudra dan Amrozi Cs malah terkesan para pelaku yakin bahwa tindakannya benar bahkan rela sampai mati." Liman Yulri, Wonosobo.

"Umar Patek sebagai orang yang bertanggung jawab atas matinya 202 orang korban bom Bali, mendukung anarkis dan mempromosikan radikalisme, hukuman 20 tahun saya pikir "kurang", harusnya seumur hidup. Saya tak setuju hukuman mati karena keyakinan saya, manusia bisa bertobat dan berubah, selain melanggar HAM. Juga dengan hukuman berat, agar para calon teroris "takut" untuk meniru Umar, ada efek jera. Kasih kepada sesama itu indah, apapun agama kita." AG Paulus, Purwokerto.

"Kalau bisa hukuman mati atau seumur hidup." Miryam Sutriyani, Hong Kong.

"Pantes karena dia jujur telah mengakui semuanya meski tidak bakal mengembalikan manusia yang telah dibom." Ila Dwi Putri, Tangerang.

"Umar Patek jelas terbukti dengan sangat sadar berperan merencanakan dan melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil yang sedang bertamasya di Bali tahun 2002 yang lalu. Jadi vonis penjara hanya 20 tahun adalah terlalu ringan. Hukuman mati pun masih terlalu ringan bagi Umar Patek. Dan pemerintah saat ini tidak boleh lengah, karena para kader didikan Umar Patek dengan kelompoknya terus berupaya melakukan hal yang sama seperti yang sudah diawali oleh kelompok tersebut." Prombang, Bandung.

"Hukuman 20 tahun penjara untuk Umar Patek sudah cukup adil, apalagi dia sudah menyesal dan meminta maaf kepada keluarga korban. Hukuman untuk teroris sudah tepat, tapi tidak untuk koruptor-koruptor. Koruptor-koruptor selalu mendapat hukuman ringan seperti pencuri sandal!." Mummmad Arkhan Raka, Karawang.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.