BBC navigation

Apakah masalah Rawagede sudah tuntas?

Terbaru  8 Desember 2011 - 17:48 WIB
Monumen Rawagede

Tragedi Rawagede diperingati setiap tanggal 9 Desember.

Pemerintah Belanda telah menyampaikan permintaan maaf secara resmi atas pembunuhan ratusan warga di Rawagede pada 9 Desember 1947.

Permintaan maaf atas nama pemerintah Belanda disampaikan oleh Dubes Belanda untuk Indonesia hari Jumat (9/12) dalam acara peringatan tahunan tragedi Rawagede yang kini dikenal dengan nama Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat.

"Saya berharap hal ini (permintaan maaf) akan membantu para orang tua menutup lembaran sulit dalam hidup mereka," kata Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal dalam pernyataannya.

Selain itu, pemerintah Belanda juga bersedia memberikan ganti rugi atas perintah pengadilan kepada tujuh janda dan satu korban hidup pembantaian Rawagede yang mengajukan gugatan di pengadilan Den Haag.

Mereka akan menerima ganti rugi sebesar 20.000 euro atau sekitar Rp243 juta per keluarga korban yang mengajukan gugatan.

"Peristiwa terjadi 64 tahun lalu dan terdapat putusan tegas dari pengadilan, tetapi keluarga korban sangat senang karena pemerintah Belanda tidak akan mengajukan banding dan akan meminta maaf," kata Zegveld

Meski mengakui peristiwa itu, selama ini pemerintah Belanda belum pernah meminta maaf atas pembunuhan ratusan warga ketika tentara Belanda menyerbu Rawagede guna mencari Lukas Kustario, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Beda data

"Peristiwa terjadi 64 tahun lalu dan terdapat putusan tegas dari pengadilan, tetapi keluarga korban sangat senang karena pemerintah Belanda tidak akan mengajukan banding dan akan meminta maaf," kata pengacara korban Liesbeth Zegveld.

Belanda menyatakan jumlah korban pembunuhan 150 namun data perkumpulan keluarga korban menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 431 orang.

Bagaimana pendapat Anda?

Apakah dengan permintaan maaf pemerintah Belanda berarti tragedi Rawagede selesai?

Bagaimana caranya agar semua keluarga korban mendapatkan ganti rugi?

Silakan isi kolom yang tersedia. Jangan lupa cantumkan nama, kota dan nomor telepon sehingga kami bisa menghubungi untuk merekam komentar Anda.

Atau sampaikan pendapat Anda lewat telepon pulsa BBC Indonesia 0800 140 1228 yang dibuka setiap Senin-Jumat pukul 16.00-20.00 WIB. Putar nomornya dan sampaikan pendapat Anda, mesin secara otomatis akan merekam pendapat Anda.

Anda juga dapat menulis komentar melalui SMS dengan nomor +44 7786 20 00 50, dengan tarif sesuai yang ditetapkan operator telepon seluler Anda.

Komentar Anda

"Permintaan ma'af saja tidak akan mampu menghapus penderitaan mereka selama 64 tahun." Mulyadi Zaenal, Cikampek, Karawang.

"Alhamdulilah, jika permintaan maaf telah disampaikan oleh pemerintah Belanda, meskipun hanya diwakili oleh Duta Besarnya. Namun, pemerintah Indonesia juga harus berkaca dari pengalaman ini. Bukan tidak mungkin, pemerintah Indonesia mempunyai kasus yang sama terhadap daerah lain. Misalnya saja pada bekas Provinsi Timor Timur yang telah diduduki dari tahun 70an. Sebut saja peristiwa pembantaian beberapa puluh pelajar di Timor Timur tahun 1991. Sudahkah pemerintah Indonesia meminta maaf?" Wawan Adi Handoko, Wonogiri.

"Seharusnya dibentuk tim verifikasi independen guna mengklarifikasi jumlah pasti korban tragedi Rawagede sebelum ganti rugi diberikan."

Tan Gantika

"Ganti rugi adalah salah satu hak keluarga korban yang harus dipenuhi oleh pihak Belanda namun ganti rugi bukanlah fokus utama yang harus diperjuangkan dalam kasus ini. Yang terpenting adalah setiap fakta yang ada dalam tragedi tersebut dapat diungkap dengan jelas tanpa ada yang terkaburkan sedikit pun dan dapat diadili dengan adil sesuai dengan hukum yang ada. Mari belajar mengubur dendam masa lalu dan mulai berfikir keras untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari orang-orang Belanda." Dwi Yulianti Kurniati, Surabaya.

"Tentunya maaf dan ganti rugi tersebut tidak sebanding dengan derita duka sengsara keluarga para korban namun walau terlambat kita hargai juga penyesalan rakyat Belanda, lihat ke depan pererat kerja sama". Heru Iswantara, Karawang.

"Seharusnya dibentuk tim verifikasi independen guna mengklarifikasi jumlah pasti korban tragedi Rawagede sebelum ganti rugi diberikan. Saya yakin jumlah korban lebih dari angka yang dimiliki pemerintah Belanda juga tidak menutup kemungkinan seperti motif yang biasanya terjadi di Indonesia, ada pihak yang mencari keuntungan dari peristiwa seperti ini." Tan Gantika, Karawang.

"Tak sepatutnya sebuah perceceran darah dibalas hanya dengan sebuah kata ma'af yang bisa menutup sebuah persoalan. Kita warga negara yang kuat, bukan negara yang lemah." Ardiansyah, Gresik.

"Sudah pasti mereka harus bertanggung jawab atas peristiwa itu. Saya rasa kalau benar adanya kebenaran itu, pasti korbannya terutama para istri dan keluarga yang ditinggal yaitu pihak indonesia. Yakin kalau yang salah itu pasti terbongkar kedoknya. Mereka tidak bisa menutupi sejarah yang mereka (Holland) buat." Muhammad Fahri, Medan.

"Maaf tidak akan mengobati luka sejarah yang sudah tertoreh sangat dalam." Eksi Pangastuti, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Secara formal memang sudah selesai, namun mungkin secara batin 'luka' itu tak akan mungkin bisa dilupakan." Afrialdi Aditama, Jakarta.

"Sudah sepantasnya ganti rugi diberikan, toh uang untuk bayar ganti rugi itu juga berasal dari kepedihan rakyat Indonesia atas penjajahan meneer. Lalu bagimana dengan pembantaian di Sulawesi Selatan, masih untung rakyat Indonesia yang sebagian besar Muslim adalah rakyat pemaaf. Tidak seperti Korea yang masih dendam dengan Jepang." Bara, Jakarta.

"Harusnya meminta maaf dan bersedia mengganti kerugian moril dan materil atas penjajahannya selama 350 tahun." Agun Gdhar Mawan, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Susah menuliskan dengan kata-kata jika mengingat penderitaan warga negeri ini selama 3,5 abad pendudukan Pemerintah Hindia Belanda. Namun Tuhan Maha Pengampun. Mungkin pernyataan minta maaf, memberikan ganti rugi, atau menjalin kerjasama dengan membantu mengatasi permasalahan di negeri ini agar selangkah dua langkah lebih maju, akan sedikit mengobati." M. Mathori Munawar, Pekalongan.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.