Peluang para pemimpin muda dalam Pilpres

Terbaru  28 Oktober 2011 - 23:24 WIB
Massa pendukung PKB

Rakyat akan memilih presiden menggantikan Presiden SBY dalam pemilihan 2014 nanti

Beberapa survei belakangan menunjukkan daya pilih sejumlah nama lama seperti Megawati, Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie tinggi apabila pemilihan presiden digelar saat ini.

Berdasarkan Survei Jaringan Suara Indonesia, misalnya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berada pada posisi tertinggi calon presiden yang dipilih publik dengan tingkat elektabilitas mencapai 19,6%.

Survei yang dilakukan Reform Institute menunjukkan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berada di urutan pertama dengan perolehan suara 13,58%. Posisi kedua ditempati Prabowo Subianto dengan 8,46%. Posisi ini terbentuk tanpa memasukkan nama Megawati.

Adapun Susilo Bambang Yudhoyono tidak dapat mencalonkan diri lagi karena SBY telah menjabat dua kali dan berdasarkan konstitusi, seseorang hanya boleh menjadi presiden maksimal dua kali masa jabatan.

Hingga kini belum ada partai politik yang secara resmi mengeluarkan nama calon presiden. Puluhan DPD Partai Golkar dalam Rapim pekan ini mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon presiden mereka dan Aburizal menyatakan tidak menolak tawaran itu, walau nama resmi baru akan dikeluarkan tahun depan.

Suami Megawati, Taufik Kiemas telah menyatakan bahwa istrinya sudah terlalu tua untuk mencalonkan diri sebagai presiden lagi. Putri mereka, Puan pernah disebut-sebut akan dicalonkan mewakili PDIP.

Namun fungsionaris PDIP Andy Budimanta menegaskan wacana mengubah pencalonan Mega menjadi Puan Maharani belum diputuskan.

"Proses pengambilan keputusan yang diambil oleh PDI Perjuangan ke depan tentu saja mempertimbangkan persoalan-persoalan yang terkait untuk memenangkan pemilu yang akan datang," katanya.

Pendapat Anda

Dengan kemunculan sejumlah nama lama di panggung politik, bagaimana peluang memunculkan sosok-sosok baru menjelang pemilihan presiden mendatang?

Apakah hasil berbagai survei itu mencerminkan kegagalan proses regenerasi kepemimpinan di Indonesia?

Apakah pertimbangan bahwa tokoh-tokoh senior lebih berpengalaman dan berbobot masih relevan pada saat ini dan penting bagi Anda?

Silakan ramaikan Forum BBC Indonesia di radio dan internet. Sampaikan pendapat Anda pada kolom yang tersedia.

Anda juga dapat menulis komentar melalui SMS dengan nomor +44 7786 20 00 50, dengan tarif sesuai yang ditetapkan operator telpon seluler Anda.

Jangan lupa sertakan nama dan nomer telepon sehingga kami bisa menghubungi Anda untuk merekam komentar.

Komentar yang terpilih kami siarkan di radio dalam acara Forum BBC Indonesia, Kamis (3/11).

Komentar

"Kebanyakan pemimpin sekarang dimunculkan berdasarkan polling survei, bahkan dari pesanan yang punya kapital"

Wahjoe

Berikut sebagian komentar yang telah kami terima:

"Tampilkan juga sosok menengah, mudah-mudahan calon seperti Tifatul Sembiring, Hidayat Nurwahid, dapat memberikan solusi pencerahan bagi bangsa RI ini dimasa depan yang lebih gemilang." Khair, Sekayu.

"Sudah saatnya jiwa pemuda yang mengisi kepemimpinan negara ini. Muda bukan berarti belum berpengalaman. Banyak pemuda Indonesia yang memiliki potensi dan segudang pengalaman. Tua dan muda sama saja, yang membedakan antaranya adalah mereka (kaum tua) tahu lebih dahulu." Triono Akmad Munib, Jember.

"Benar bahwa hasil survei yang cenderung dipaksakan, lemahnya independensi menyebabkan keraguan untuk sosok yang benar-benar mewakili rakyat. Pasti masih ada kesempatan sosok yang baru, seperti Sri Mulyani, Mahfud MD dan semoga adanya survei yang lebih representatif dari lembaga yang terpercaya yang melibatkan pengamat politik, aktivis, LSM, surat khabar dan lain-lain dapat menjadi ledakan persuasif bagi kaum muda untuk buktikan kepemimpinannya." Aruan, Medan.

"Kebanyakan pemimpin sekarang dimunculkan berdasarkan polling survei, bahkan dari pesanan yang punya kapital. Pemimpin datangnya bukan karbitan tetapi melalui proses kompetisi yang ketat, bukan seperti sekarang jadi bupati, walikota, gubernur, presiden, anggota legislatif tergantung pimpinan partai politik. Seharusnya untuk jadi pemimpin punya pengalaman minimal dua tahun terjun langsung di dalam masyarakat yang diwakilinya dibuktikan dengan kinerja sehingga masyarakat merasakan manfaatnya." Wahjoe, Nganjuk.

"Demi masa depan Indonesia, berikan kesempatan bagi kaum muda. Sejujurnya, aset bangsa yang paling berharga adalah kaum muda yang sudah berpengalaman, jadi berilah kesempatan bagi pemuda untuk berpengalaman." Julius Gea, Medan.

"Kemunculan sosok lama sudah teruji, ternyata tidak berdampak positif untuk perubahan Indonesia. Dan kemunculan sosok baru (muda) sebaliknya belum teruji. Saya tidak setuju kalau pemimpin negara dibuat percobaan, khususnya bagi pemimpin yang muda. Untuk saat sekarang belum ada yang kredible untuk menjadi pemimpin/presiden Indonesia. Dadan, Cimahi.

"Saya kira kita punya banyak stok ya calon-calon pemimpin muda, seperti Anas Urbaningrum, Mahfud MD, Sri Mulyani, Pramuno Anung dan Fadel Mohammad. Beliau-beliau itu juga punya eliktabilitas tinggi menurut saya, saran saya pada lembaga survei tolong munculkan nama-nama itu biar masyarakat tahu." Moh. Fauzi Gandok, Sumenep.

"Mudah-mudahan dengan calon presiden yang muda mampu membawa bangsa kita lebih maju dan menghapus korupsi dan kemiskinan di tanah ibu pertiwi." Rahim, Kaltim.

"Walau ada keraguan mengenai independensi dari pelaksana survei, tapi setidaknya ada gambaran bahwa masyarakat kita sudah terbuka dan tidak ada lagi dikotomi tua atau muda, tapi adanya nama nama seperti Mahfud SD, Sri Mulyani bahkan Dahlan Iskan memberikan sinyal bahwa kita butuh pemimpin alternatif yang sudah jelas rekam jejaknya, berwawasan visioner dengan berkarakter Indonesia, selayaknya partai politik layak untuk mempertimbangkan mereka daripada calon dari dalam yang kurang menarik dan cenderung dipaksakan." Kingskhan, Gresik.

"Di panggung politik Indonesia peluang sosok baru mejelang pilpres adalah sangat kecil karena tokoh tokoh politik senior lebih pengalaman dalam meningkatkan jumlah suara melalui bualan kepada rakyat sedangkan pemimpin muda baru mulai belajar memberikan janji kosong kepada rakyat. Jadi pilpres mendatang masih akan dikuasai oleh mereka yang berkantong tebal dan yang sudah berpengalaman mencuri suara hati nurani rakyat daripada melayani kesejahteraan rakyat." Yosef Tanauma, Manado.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.