Orang-orang berideologi ekstrem

Terbaru  29 September 2011 - 16:58 WIB
Foto Ahmad Yosepa Hayat

Juru bicara Mabes Polri Irjen Anton Bahrul Alam mengatakan jaringan pelaku teror sudah diketahui polisi

Mabes Polri telah memastikan Pino Damayanto aliah Ahmad Yosepa Hayat sebagai pelaku bom Gereja Bethel Injil Solo sekaligus terlibat dalam aksi bom bunuh diri di masjid Polres Cirebon April silam.

Hayat juga disebut-sebut media bisa meracik bom karena dilatih oleh seorang tersangka teroris lainnya yang pernah ikut program deradikalisasi.

Juru bicara Mabes Polri Irjen Anton Bahrul Alam mengakui memang ada jaringan pembom radikal dan sejumlah nama sudah diketahui polisi.

"Untuk jaringan pelaku tentu berada di beberapa lokasi. Kita tidak bisa sampaikan tetapi yang jelas kita sudah menangani nama-nama mereka dan kita akan kejar mereka. Kita tunggu saja hasil dari tim kerja kita tim Densus 88," katanya dalam jumpa pers pekan lalu.

Pengamat masalah terorisme dari International Crisis Group Sidney Jones menilai fakta ini mempertegas bahwa proses deradikalisasi tidak bisa diserahkan kepada pemerintah dan aparat saja.

"Tetapi kalau kita ingin betul-betul mengimunisasi murid-murid di Indonesia terhadap ajaran ekstrem caranya bagaimana? Tentu saja harus melibatkan sekolah, guru, tokoh masyarat, orang tua, dan lain sebagainya. Tapi siapa di Indoneasia sekarang ini memikirkan strategi counter-radikalisasi selengkap itu? Tidak ada," kata Jones kepada BBC Indonesia.

Komentar

Dalam program deradikalisasi yang dilakukan di bawah pengawasan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, mantan terpidana kasus terorisme dilibatkan dalam diskusi dengan tokoh-tokoh agama dan lembaga swadaya masyarakat.

Sejumlah mantan terpidana teroris lain yang pernah ikut program ini adalah Abdullah Sonata dan Abu Tholut, tetapi mereka kembali melakukan aksi terorisme.

Jadi mengapa orang-orang berideologi ekstrem tetap muncul?

Mengapa mereka mempunyai peluang dan ruang untuk bertindak?

Apa sebabnya dan bagaimana mengatasinya?

Silakan kirim pendapat Anda ke email indonesia@bbc.co.uk atau isi kolom Forum di situs BBCIndonesia dot com.

Anda juga dapat menulis komentar melalui SMS dengan nomor +44 7786 20 00 50, dengan tarif sesuai yang ditetapkan operator telpon seluler Anda.

Jangan lupa sertakan nama dan nomer telepon sehingga kami bisa menghubungi Anda untuk merekam komentar.

Komentar yang terpilih kami siarkan di radio dalam acara Forum BBC Indonesia, Kamis (6/10) pukul 18.15 WIB.

Pendapat Anda

"Saya salut dengan kesigapan polisi dalam menangani kasus tapi sayangnya sigapnya setelah kejadian, apa gunanya ada intelejen? siapapun yang melakukan tindakan kekerasan atas alasan apapun harus ditindak sesuai aturan yang berlaku. Jika disebut tidak ada keterkaitan dengan agama, kenapa bom bunuh diri dilakukan di tempat ibadah? Di forum internet masih mudah ditemui mindset-mindet ekstrem kok, memang meraka seringkali hanya menggunakan nama alias tapi itu mendeskripsikan betapa banyak yang mesti di-deradikalisasi." Bambang, Pekalongan.

"Sebenarnya ini ibarat "bom" waktu yang telah lama kita ketahui! mungkin sulit jika mengatasi yang namanya "doktrin", tapi jika meminimalisasi yah tidak ada cara lain yah mana tindakkan nyata pemerintah & pengusaha serta pejabat terkait untuk pengentasan "kemiskinan & pengangguran". Sebab notabene "radikalisme" banyak dilandasi rasa frustasi akan hidup layak sebagai harkat martabat manusia seutuhnya tanpa mengenal apa doktrin agamanya, jadi jangan lupakan sandakan, pangan & papan juga pendidikan." Hendrik, Jakarta.

"Orang-orang yang suka radikal kebanyakan mereka beragama Islam. Hal ini terjadi karena mereka salah dalam memahami agama mereka yang disebabkan sumber yang salah yaitu para oknum ahli kitab Islam yang mendoktrin mereka untuk membela Tuhan dengan cara menghancurkan yang berbeda dengan mereka. Kejahatan ini dapat diselesaikan dengan mengembalikan Islam sebagai agama bukan Islam sebagai politik ataupun sebagai budaya kekerasan serta memberikan hukuman bagi ulama Islam yang mengajarkan kekerasan."
Kenan Arep, Pati.

"POLRI selalu mengatakan : Jaringan pelaku teror sudah diketahui polisi. Tetapi jaringan teror tersebut dengan sukses selalu dapat meledakkan bom sesuai rencananya. Sepertinya POLRI memberantas radikalisme dengan setengah hati. Barangkali atas pesanan para politisi yang berbasis agama, yang mengatakan NKRI sudah final, tetapi perbuatannya dan kebijakannya malah melindungi kaum radikal tersebut." Prombang, Bandung.

"Menurut saya ada dua faktor yang menyebabkan terorisme makin marak di Indonesia. Faktor pertama kurangnya moral dan pola pikir yang kurang rasional di masyarakat sehingga memudahkan para eksekutor teroris untuk melakukan aksi cuci otak. Dan faktor yang kedua kurangnya kinerja dari aparat pemerintah, saya berpendapat bahwa kinerja aparat terkesan lambat dan tidak fokus dalam menyikapi masalah terorsime, aparat terkesan lalai dan terlalu santai. Kalau sudah kejadian baru deh ada reaksi." Sabbihis Fathun Vickih, Jakarta.

Hubungi kami

* Kolom harus diisi

(Maksimal 500 karakter)

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.