Pengaturan tentang penagih hutang bank

Terbaru  10 April 2011 - 15:28 GMT
Bank Indonesia

Bank Indonesia mengaku belum bisa memberikan tanggapan atas rekomendasi Komisi Perbankan DPR.

Komisi Perbankan DPR mengusulkan agar Bank Indonesia mengatur kembali peraturan soal para penagih hutang atau debt collector.

Rekomendasi tersebut keluar setelah seorang nasabah kartu kredit Citibank tewas saat merundingkan hutang kartu kreditnya.

Dia diduga dianiaya oleh para penagih hutang di salah satu kantor Citibank.

DPR juga meminta perbankan agar tidak menggunakan pihak ketiga sebagai penagih hutang agar lebih mudah diawasi dan dikendalikan.

"Bank kalau mau menggunakand debt collector, bikin organisasi sendiri, jangan outsourcing dari luar. Apalagi yang kita lihat dari data kemarin, ini hanya sebuah kontrak Citibank dengan debt collector. Segala macam tanggung jawab ada di tangan debt collector, ya tidak bisa begitu dong," kata Emir Moeis, Ketua Komisi Perbankan DPR.

Emir menambahkan bahwa setiap tindakan yang berkaitan dengan nasabah masih merupakan tanggung jawab perbankan.

Namun tampaknya rekomendasi itu sulit untuk diwujudkan oleh dunia perbankan.

"Tujuannya sebenarnya kan kontrol, bukan masalah siapa yang melakukannya. Sekarang kita memang belum punya standar. Kalau kita sudah punya standar dan itu ditetapkan Bank Indonesia, nantinya tentu semua bank harus ikut standar itu, baik oleh bank itu sendiri maupun outsourcing," tutur Steve Marta, dari Asosiasi Kartu Kredit Indonesia.

Bank Indonesia sendiri mengatakan kepada BBC Indonesia belum bisa menanggapi rekomendasi Komisi Perbankan DPR.

Jadi bagaimana kalau anda yang menanggapinya.

Apakah memang sudah saatnya bank sendiri yang melakukan penagihan hutang, sehingga bank bersangkutan yang bertanggung jawab.

Kirim pendapat

  • Email : indonesia@bbc.co.uk (mohon sertakan nomor telepon anda jika tidak keberatan ditelepon oleh BBC Indonesia. Kerahasiaan nomor anda dijaga)
  • Telepon bebas pulsa : 0800 140 1228 (Senin-Jumat, 16.00-20.00 WIB)
  • Komunitas BBC Indonesia di Facebook

Atau anda di sisi yang mengatakan bahwa yang penting adalah peraturannya, terlepas dari siapapun yang melaksanakannya.

Mungkin anda berpendapat bahwa masalah penagihan hutang itu bersumber dari bank itu sendiri karena tidak mengikuti prosedur yang semestinya saat memberikan hutang.

Kami juga menunggu pengalaman anda, jika memang pernah berurusan dengan para penagih hutang.

Seperti biasa Forum BBC Indonesia bisa anda dengar di radio setiap Kamis Pukul 18.22 WIB dan Senin Pukul 05.00 WIB.

Ragam komentar

"Bank sekarang fungsinya murni sebagai lintah darat atau gurita ketimbang tempat menyimpan dan menyalurkan dana untuk pembangunan..."

Abduk Dk

"Penagih hutang (debt colector) dari pihak ketiga tak ada salahnya tapi harus dari orang pintar, bukan dari orang yang kuat (preman). Pihak bank bisa saja menunjuk salah satu kantor pengacara yang faham akan UU dan bisa dipertanggungjawabkan. Bank tidak seharusnya menunjuk orang-orang sembarangan. Satu hal lagi, bank harus tahu kemampuan atau gaji seseorang sebelum memberikan kartu kredit, itupun harus ada batas misalnya 1 bulan Rp20 juta, Rp40 juta dan sebagainya. Tidak bisa bebas, Contoh gaji si A Rp30 juta/bulan tapi tagihan kartu kredit Rp 100 juta/bulan. Ini siapa yang salah." Capalo Somak, Kuala Lumpur.

"Diskrimanasi rekruitmen bank yang menerima karyawan cantik-cantik secara fisik untuk menarik konsumen ternyata tidak menjamin dengan baik." Idaitsarp Ardneh, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Kesalahan dari bank adalah waktu nasabah kesulitan tidak bayar. Sudah telepon dan faksimil minta solusi tapi jawabnya kalau prosedur itu tidak ada. Setelah berbunga-bunga tidak bisa bayar dan sudah marah/kasar, barulah bank memberi potongan 50% tapi itu setelah berbunga-bunga. Semua permainan bank dan debt collector harus dihapus saja karena mereka tidak berkepentingan tapi menjadi momok dalam masyarakat. Sebenarnya kartu kredit itu sebelum diberikan sudah diasuransikan. Mana ada bank yang mau rugi." Lia, Surabaya.

"Bank sekarang fungsinya murni sebagai lintah darat atau gurita ketimbang tempat menyimpan dan menyalurkan dana untuk pembangunan. Syahwat mengeruk uang sebesar-besarnya menjadi tujuan utama. Yang kaya makin kaya yang miskin tambah menumpuk hutangnya." Abdun Dk, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Seperti biasa apabila kita telat untuk membayar maka dengan congkaknya dan mengancam selalu bilang kapan bayarnya! Tidak pernah tahu kesulitan orang lain." Indra, Surabaya.

"Pelarangan penggunaan jasa debt collector perlu tetapi penyelesaian masalah harus dilakukan secara komprehensif. Sumber masalahnya adalah bank yang asal saja memberi kesempatan kepada masayarakat untuk memiliki kartu kredit. Ketika pemegang kartu kredit tidak mampu membayar tagihan, bank menjadi kelabakan dan memutuskan untuk menggunakan jasa pihak ketiga yaitu debt collector. Jadi kunci penyelesaian masalahnya adalah pada tata cara pemilihan nasabah dan bukan pada tata cara penagihan." Aristides Mota, Bogor.

"Debt collector masih perlu, untuk konsumen yang buruk karakternya. Enak saja cuma mau make uang tanpa mau membayarnya. Tanpa debt collector, castflow perusahan akan terganggu karena banyak piutang yang akan tidak tertagih." Putra Utama, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Sebuah peraturan memerlukan perangkat-perangkat agar bisa dijalankan dengan baik. Sebaik apapun peraturannya tanpa disertai dengan perangkat yang baik, maka peraturan tersebut seperti hasil tulisan yang tak ada maknanya karena implementasinya tidak ada. Jadi walaupun peraturan tentang perbannkan sudah dibuat dengan sangat baik, tetapi perangkat-perangkat pelaksananya kurang baik, ya hasilnya juga kurang maksimal." Wadiyo, Surabaya.

"Salahkan nasabah yang bandal dong. Penagihan hutang kan untuk konsumen-konsumen yang berkarakter buruk, yang memang perlu tegas pola tagihnya." Iwan Firman, Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Nasib orang kita: waktu pakai kartu kredit lagi ada uang tapi sekarang mana tahu perusahaan banyak yang macet, bukan kita orang kecil. Perusahaan besar saja bisa bangkrut. Kalau sudah gitu, bagaimana mau bayar. Makan saja susah, apalagi untuk bayar hutang. Mungkin orang yang bilang banyak uang itu, mungkinkah uang haram karena belum pernah merasakan dari punya uang menjadi tidak punya uang!" Yenling Erliana,Komunitas BBC Indonesia di Facebook.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.