Direktur HRW dan stafnya diusir dari Mesir

  • 12 Agustus 2014
Kenneth Roth
Direktur HRW Kenneth Roth bersama seorang koleganya diusir dari Mesir.

Direktur eksekutif dan kepala divisi Timur Tengah dan Afrika lembaga pemantau hak asasi manusia Human Rights Watch, ditangkal masuk Mesir.

Tahun lalu Kenneth Roth dan Sarah Leah Whitson, datang di Kairo untuk meluncurkan laporan HRW tentang pembunuhan masal di Mesir.

Ratusan orang terbunuh saat pasukan keamanan membubarkan unjuk rasa menentang penggulingan Presiden Mohammed Morsi, pada 14 Agustus 2013.

Presiden Abdul Fattah al-Sisi, yang terpilih dalam pemilihan presiden Mei lalu, saat kejadian itu menjabat sebagai panglima militer.

Human Rights Watch (HRW) adalah salah satu pemantau HAM internasional yang menyuarakan keprihatinan tentang pemberangusan besar-besaran terhadap para pembangkang, sejak tentara menggulingkan Morsi pada Juli 2013.

'Alasan keamanan'

Segera setelah mendarat di BAndara Internasional Kairo, Roth dan Whitson ditahan aparat selama 12 jam, lalu digiring ke pesawat lain untuk terbang ke luar Mesir.

Menurut Sarah Whitson, aparat Mesir menyatakan bahwa keduanya diusir untuk 'alasan keamanan.'

HRW akan meluncurkan laporan kekerasan polisi dan tentara dalam demonstrasi 2013.

Dalam pernyataannya, HRW menyebutkan inilah untuk pertama kalinya, staf mereka dilarang masuk Mesir. Bahkan pada zaman Presiden Hosni Mubarak pun mereka tak pernah dilarang masuk.

Roth dan Whitson sedianya akan meluncurkan laporan terbaru Selasa (12/8), yang antara lain "mencatat bagaimana polisi dan tentara Mesir menembakkan peluru tajam ke arah kerumunan pengunjuk rasa" sesudah Morsi digulingkan dari kekuasaannya.

Menurut HRW, setidaknya 1.150 orang terbunuh dalam enam unjuk rasa di bulan Juli dan Agustus 2013.

Yang terburuk, antara lain, peristiwa di masjid Rabaa al-Adawiya dan lapangan Nahda.

Setidaknya 1.150 tewas dalam enam unjuk rasa Juli dan Agustus 2013.

Dari bandara Kairo, bercuit di Twitternya,"Pembantaian Rabaa setara dengan Tiananmen dan Andijan," namun pemerintah Mesir "tak mengizinkan saya memaparkan laporannya."

Ditambahkannya, HRW telah menyampaikan penemuan mereka kepada pemerintah Presiden Sisi dan berharap bisa mendiskusikannya dengan yang berwenang.

Pemerintah Mesir belum memberikan pernyataan atas kejadian itu.

Berita terkait