PM Inggris Cameron lanjutkan perombakan kabinet

  • 15 Juli 2014
cameron
PM Cameron (tengah) bersama William Hague (kanan) dan Menkeu George Osborne.

Perdana Menteri Inggris David Cameron melanjutkan perombakan besar-besaran kabinetnya dengan mengganti sejumlah menteri.

Sesudah Menteri Luar Negeri William Hague meninggalkan posnya, untuk menjadi Ketua Majelis Rendah parlemen, PM Cameron mengganti sejumlah pos lain termasuk menteri pendidikan.

Untuk jabatan menteri luar negeri akan diisin oleh Philip Hammond yang sebelumnya menempati menteri pertahanan.

Menteri Pendidikan Michael Gove digeser menjadi "Chief Whip," posisi khas di Inggris yaitu pejabat yang menggalang disiplin para anggota parlemen dari partainya, khususnya saat pemilihan umum.

Michael Gove selama ini merupakan tokoh paling kontroversial dan paling radikal dalam kabinet Cameron.

Ia sangat keras dalam menerapkan perubahan sistem pendidikan Inggris, termasuk dalam penerapan sekolah gratis dan perluasan program akademi.

Pencopotannya dianggap sebagai upaya PM Cameron untuk menenangkan keadaan.

Male, pale and stale: Pria, Pucat, dan Basi

Posisi Menteri pendidikan kini diisi oleh Menteri Keuangan Nicky Morgan.

Serikat Pengajar mengatakan, mereka akan berusaha bertemu secepatnya dengan Nicky Morgan untuk membicarakan masalah gaji, pensiun, dan standar profesi.

Pengangkatan Morgan, politikus perempuan berusia 41 tahun, menandai upaya PM Cameron untuk mengisi kabinetnya dengan lebih banyak perempuan.

Jumlah perempuan di kabinet dilipat gandakan dari tiga menjadi enam sejauh ini --dari keseluruhan 23 menteri kabinet utama Cameron.

Salah satu yang juga mengejutkan adalah penunjukkan Liz Truss yang baru berusia 38 tahun sebagai menteri lingkungan.

Cameron menyebut, tujuan dari perombakan kabinet adalah untuk menampilkan muka-muka baru yang segar, dan membuat para pemilih mempertimbangkan ulang gambaran Partai Konservatif yang memiliki citra "male, pale and stale" --pria, pucat (kulit putih), dan basi (gaek).

Selain itu, banyak menteri baru adalah politikus yang skeptis terhadap Eropa.

Hal ini membuat Partai Buruh menyebut perombakan kabinet itu sebagai "pembantaian kaum moderat," yang disebutkan sebagai langkah yang membawa Inggris makin ke kanan dalam isu Eropa dan berbagai permasalahan lain.