MH370: Deteksi sinyal dari kapal Cina merupakan "petunjuk kuat"

  • 6 April 2014
Kapal Haixun
Kapal Cina, Haixun 01 mendeteksi sinyal yang diduga kotak hitam pada Sabtu (05/04).

Koordinator pencarian pesawat MH370 di Australia mengatakan deteksi sinyal kotak hitam dari kapal Cina di selatan Samudra Hindia merupakan petunjuk yang "kuat dan memberi harapan."

Cina mengatakan bahwa Haixun 01 telah mendetaksi sinyal selama 90 detik dalam waktu 24 jam pertama mereka melakukan pencarian sinyal, kata pensiunan Kepala Marsekal Udara Angus Houston.

Dia memperingatkan bahwa data masih belum bisa diverifikasi.

Pesawat Australia telah dikirim ke wilayah itu untuk melakukan penyidikan lebih lanjut.

Kapal Angkatan Laut Inggris, HMS Echo juga menuju ke lokasi, kata Houston, dan akan diikuti oleh kapal Angkatan Laut Australia Ocean Shield yang tengah melakukan pencarian terpisah di tempat lain.

Dua kapal ini memiliki teknologi untuk mendeteksi sinyal bawah laut yang dipancarkan perekam data itu.

Sebagai tambahan, selusin pesawat militer dan 13 kapal juga melakukan pencarian pada Minggu (06/04) di wilayah yang terletak 2.000 kilometer barat laut kota Perth, Australia. Pencarian akan mencakup luas 216.000 km persegi.

Dua deteksi sinyal

Sinyal belum tentu berasal dari kotak hitam MH370, kata Huston.

Setelah mengkonfirmasi rincian dari deteksi sinyal pertama pada Sabtu (05/04) kemarin memiliki "karakter yang sama" dengan sinyal kotak hitam, Houston mengatakan ada sinyal kedua yang tertangkap.

"[Sabtu] siang waktu Perth, ada deteksi lain kurang dari dua km dari lokasi semula."

Sinyal kedua berlangsung sekitar 90 detik, katanya.

Dia bersikeras perkembangan terbaru harus diperlakukan sebagai petunjuk yang harus diverifikasi dulu, "hingga kesimpulan pasti bisa diambil."

"Kami bekerja di laut sangat luas dan dalam area pencarian yang sangat luas, dan sejauh ini sejak pesawat hilang kita memiliki sangat sedikit petunjuk yang memungkinkan kita untuk mempersempit area pencarian," katanya.

Penerbangan MH370 menghilang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing empat pekan lalu dengan 239 orang di dalamnya.

Pesawat diyakini telah jatuh di selatan Samudra Hindia, meskipun tidak ada puing-puing yang ditemukan sejauh ini.

Berita terkait