BBC navigation

Penculikan Sabah, KTP diusulkan diterbitkan ulang

Terbaru  3 April 2014 - 18:30 WIB
Stephen Wong

Stephen Wong Tien Fatt menuturkan keamanan di Sabah semakin memburuk.

Seorang anggota parlemen Malaysia dari negara bagian Sabah meminta pemerintah menerbitkan ulang semua kartu tanda penduduk bagi warga Sabah menyusul penculikan terbaru.

Usulan tersebut disampaikan oleh anggota parlemen, Stephen Wong Tien Fatt, dari daerah pemilihan Sandakan, Sabah, ketika menyerahkan mosi darurat di parlemen Malaysia terkait Klik penculikan terbaru pada Kamis (03/04).

Seorang wisatawan berkewarganegaraan Cina dan seorang karyawan hotel berkewarganegaraan Filipina diculik dari sebuah resor di kawasan Semporna, Sabah, oleh sekelompok orang bersenjata. Laporan-laporan menyebutkan mereka diduga diculik oleh kelompok militan dari Filipina selatan.

"Kami merasa bahwa meskipun telah dibentuk ESCOM (Komando Keamanan Sabah Timur), penyusup seperti ini tidak bisa dilacak," kata Stephen Wong Tien Fatt melalui sambungan telepon, Kamis, 3 April.

Hal itu, lanjutnya, disebabkan oleh banyaknya pendatang khususnya dari Filipina.

"Kita harap seluruh kartu identitas bagi penduduk Sabah seluruhnya diterbitkan ulang. Di Sabah ini ada terlampau banyak pendatang tanpa izin yang mengakibatkan masalah yang kita hadapi. Pertamanya, keselamatan, masalah sosial dan banyak masalah lain," tambah Stephen Wong Tien Fatt dari partai DAP yang beroposisi itu.

Akibat tebusan

"Seringkali mereka menculik untuk menuntut tebusan. Kami diberitahu setiap kali tebusan tinggi dan kami harus menyelesaikannya untuk membebaskan sandera."

Stephen Wong Tien Fatt

Kantor berita Bernama melaporkan Perdana Menteri Najib Razak mengatakan prioritas pemerintah adalah memastikan keselamatan para sandera.

Hingga kini pihak berwenang Malaysia masih melakukan pencarian terhadap orang-orang yang diduga menculik warga negara Cina dan Filipina itu.

November lalu, orang-orang bersenjata menculik seorang wisatawan perempuan Taiwan dari Pulau Pom-Pom di Sabah timur, dan membunuh suaminya. Perempuan tersebut akhirnya dibebaskan satu bulan kemudian di Filipina setelah uang tebusan dilaporkan dipenuhi.

Pembayaran uang tebusan seperti itu dinilai akan mengarah aksi-aksi serupa di masa mendatang.

"Seringkali mereka menculik untuk menuntut tebusan. Kami diberitahu setiap kali tebusan tinggi dan kami harus menyelesaikannya untuk membebaskan sandera," jelas Stephen Wong Tien Fatt kepada Rohmatin Bonasir.

Kepada pemerintah federal, ia menuntut agar segera menerbitkan laporan hasil penyelidikan RCI mengenai dugaan pemberian kewarganegaraan secara sistematis kepada pendatang asing di negara bagian Sabah pada tahun 1990-an.

Pemberian kewarganegaraan itu diduga ada kaitannya untuk menumbangkan Partai Bersatu Sabah yang berkuasa di negara bagian itu dan sebaliknya menguntungkan koalisi yang berkuasa di tingkat federal.

Tahun lalu pemerintah Malaysia menggelar razia besar-besaran untuk mengusir pendatang asing tanpa izin, antara lain untuk Klik alasan keamanan.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.