Thailand tangkap pemimpin oposisi

  • 10 Februari 2014
Tentara Thailand
Penangkapan tokoh oposisi bisa menjadi pertanda tindakan pemerintah yang lebih keras.

Seorang pemimpin oposisi Thailand yang terkenal ditangkap setelah pengadilan mengeluarkan surat penangkapan atas 19 pemimpin oposisi pekan lalu.

Wartawan BBC di Bangkok, Jonathan Head, melaporkan Sonthiyan Chuenruthainaitham merupakan tokoh oposisi yang banyak diliput media dan ikut memimpin unjuk rasa jalanan untuk menentang pemerintah Thailand yang sudah berlangsung selama hampir tiga bulan.

Pengadilan mengeluarkan surat penahanan atas 19 pemimpin oposisi dengan dakwaan melanggar keadaan darurat yang diberlakukan di Bangkok dan sekitarnya oleh Perdana Menteri Yingluck Shinawatra.

Walau sudah diberlakukan keadaan darurat sejak akhir Januari, gerakan Komite Reformasi Demokrasi Rakyat tetap menggelar aksi unjuk rasa dengan menutup beberapa jalan utama dan menghambat pemungutan suara 2 Februari lalu.

Para pengunjuk rasa menuntut PM Yingluck mundur karena dianggap di bawah bayang-bayang abangnya, Thaksin Shinawatra yang digulingkan militer dari kursi PM tahun 2006.

Thaksin -yang saat ini mengasingkan diri ke luar negeri- sudah didakwa dengan beberapa dakwaan korupsi.

Unjuk rasa di Bangkok
Pengunjuk rasa menuntut agar PM Yingluck Shinawatra mengundurkan diri.
Unjuk rasa di Bangkok
Unjuk rasa masih berlangsung di Bangkok namun jumlahnyha sudah menurun.

Penangkapan tokoh oposisi ini bisa menjadi pertanda bahwa pemerintah ingin menerapkan tindakan yang lebih keras.

Meski skala unjuk rasa sudah berkurang, pemimpin pengunjuk rasa Suthep Thuahsuban bertekad menggelar aksi hingga PM Yingluck mundur dan diganti dengan Dewan Rakyat yang tidak dipilih.

Pemerintah masih harus melakukan pemungutan suara ulang di beberapa tempat sementara partai oposisi ingin menggugat ke Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan hasilnya.