Kelahiran Mao tetap dikenang

  • 20 Desember 2013
Mao Zedong
Ketua Mao masih belum bisa dilupakan sama sekali oleh pemerintah maupun rakyat Cina.

Ulang tahun mendiang Mao Zedong pada 26 Desember merupakan peristiwa penting dan unik bagi Cina.

Pendiri Republik Rakyat Cina itu wafat 9 September 1976 namun tampaknya dia belum 'mati'.

Partai Komunis yang berkuasa menggunakan hari kelahirannya, sama seperti yang ke-100 dan yang ke-110, untuk membantu menahan menipisnya legitimasinya.

Namun peringatan ke-120 tahun ini berlangsung pada masa yang sensitif di Cina, ketika generasi baru para pemimpin baru berkuasa setahun lebih.

Juga bersamaan dengan semakin meningkatnya perbedaan pendapat atas peninggalannya, yang sebelumnya tidak terjadi.

Perbedaan pendapat

Beberapa pihak menyebutnya sebagai diktator karena kekerasan yang terjadi pada masa kepemimpinan, yang menyebabkan jutaan rakyat Cina mati.

Namun sebagian lain memujanya hampir seperti Tuhan.

Era internet telah membuat perdebatan semakin ramai dan ketika Partai Komunis juga sedang berjuang untuk menghadapi pertarungan dalam upaya mendominasi pendapat umum.

Xi Jinping -pemimpin yang baru berkuasa setahun lebih- masih dalam proses konsolidasi kekuasaan dan menghadapi tantangan yang lebih besar dibanding pendahulunya dalam menjamin kekuasaan partai tunggal.

Dalam konteks politik, seperti dituturkan sejarawan Cina, Yu Yingshi, Mao merupakan pemimpin kuat dan bahkan dianggap lebih kuat dari Stalin.

"Legitimasinya melemah ketika Deng Xiaoping mengambil alih. Namun Cina kini tidak memiliki politisi yang kuat," tambahnya.

Bagaimanapun Cina saat ini -yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia- sudah berjarak jauh dengan masa Mao dulu.

Tak berganti warna

Visi dan cita-cita Mao, antara lain kesetaraan untuk semua orang, sudah diabaikan dan partai yakin bahwa cengkraman kekuasaan tergantung pada pembangunan ekonomi.

Presiden Xi Jinping dan Mao Zedong
Ulang tahun Mao masih terlalu besar untuk diabaikan Xi Jinping.

Sejarawan Cina lain, Zhang Lifan, mengatakan bahwa tetap saja Mao perlu dilindungi oleh para pemimpin Cina modern.

"Generasi pemimpin Cina ingin mempertahankan rezim. Untuk itu mereka harus mempertahankan Mao."

Setelah merebut kekuasaan, Xi Jinping memperlihatkan isyarat terbuka bahwa dia memuja Mao, antara lain dengan kunjungan ke sebuah desa tempat Mao memerintahkan Tentara Pembebasan Rakyat menyerbu Beijing tahun 1949.

Dalam kunjungan itu, dia berjanji 'bangsa kita yang merah tidak akan pernah berganti warna'.

Namun Xi sebenarnya tidak menghidupkan kembali ajaran Mao, seperti dijelaskan Sydney Rittenberg, warga Amerika Serikat yang berusia 92 tahun yang pernah tinggal di Cina selama 35 tahun di zaman Mao.

"Kebijakan reformasi Xi Jinping secara langsung menentang ekonomi Maoisme," tuturnya kepada BBC Seksi Cina.

Peringatan ulang tahun Mao yang ke-120 tampaknya menjadi dilema bagi Xi Jinping.

Jika dilakukan secara besar-besaran akan makin memperbesar perbedaan pendapat umum tentang Mao.

Rencana perayaan di Balai Rakyat di Lapangan Tiananamen, Beijing, pada tanggal 26 Desember sudah 'disederhanakan'.

Mao Zedong
Semakin meningkat perbedaan pendapat tentang Mao di kalangan rakyat Cina.

Sebelumnya diberi judul 'Matahari paling merah jika Ketua Mao disayang' namun diganti menjadi "Untuk Ibu Pertiwi'.

Bagaimanapun ulang tahun Mao masih terlalu besar untuk diabaikan Xi Jinping dan Ketua Mao tetap 'hidup' di Cina, 37 tahun setelah kematiannya.

Berita terkait