Faktor keamanan dorong Malaysia perketat pendatang

  • 6 Desember 2013
Profesor Jayum Anak Jawan
Serangan kelompok bersenjata ke Sabah menjadi salah satu faktor pendorong terhadap pendatang, kata Profesor Jayum.

Hanya dalam waktu tiga bulan, Malaysia telah menangkap hampir 14.000 pendatang asing tanpa izin termasuk tenaga kerja Indonesia.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Wan Junaidi Tuanku Jaafar mengatakan tindakan ini ditempuh karena alasan keamanan.

“Karena kita melihat, kita juga peka bahwa banyak di luar sana para politikus menuduh kerajaan (pemerintah) tidak mengambil tindakan yang keras terhadap tenaga kerja asing,” kata wakil menteri dalam negeri kepada BBCIndonesia.com di Putrajaya.

Landasan yang dikemukakan oleh wakil menteri dalam negeri diperkuat oleh pakar politik dan pemerintahan Profesor Jayum Anak Jawan dari Universitas Putra Malaysia.

“Masyarakat memikirkan bahwa kedatangan beramai-ramai pekerja tanpa izin sudah menimbulkan ketegangan dan masalah dalam masyarakat. Ini belum mengambil kira pekerja-pekerja yang datang dengan izin.”

“Rata-rata menunjukkan bahwa banyak juga kegiatan jenayah (kejahatan) kecil dan besar melibatkan mereka. Jadi saya rasa ini satu desakan masyarakat agar kerajaan mengambil tindakan lebih tegas, jelas Profesor Jayum.

Kedaultan

Namun persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa sebagian besar tindak kejahatan dilakukan oleh pendatang asing tidak sepenuhnya benar.

Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi seperti dikutip media setempat mengatakan hanya 10-15% kejahatan yang dilakukan oleh pekerja asing, selebihnya oleh warga Malaysia.

Di balik operasi skala besar terhadap pendatang tanpa izin, Profesor Jayum memandang ada faktor lain menyusul peristiwa pendudukan kawasan Lahad Datu di negara bagian Sabah oleh kelompok bersenjata dari suku Sulu, Filipina.

"Bukan saja menimbulkan ketegangan dan ketidakselamatan bagi penduduk setempat tetapi terkait juga dengan isu kedaulatan negara," katanya.

Operasi besar-besaran terhadap pendatang tanpa izin dilakukan setelah periode pemutihan berakhir akhir Oktober lalu. Sejak saat itu pihak berwenang melancarkan operasi hampir 2.000 kali di seluruh penjuru negeri.

Sebanyak 5.218 tenaga kerja Indonesia telah ditangkap pihak berwenang Malaysia sejak September.