Sebanyak 150 tentara Bangladesh divonis mati

  • 5 November 2013
Bangladesh
Sebanyak 150 terdakwa diganjar hukuman mati namun sebagian dinyatakan tidak bersalah.

Pengadilan sipil Bangladesh mulai menjatuhkan hukuman atas 800 tentara lebih yang dituduh terlibat dalam pemberontakan militer 2009.

Sejauh ini sudah lebih dari 150 tentara diganjar dengan hukuman mati terkait pemberontakan selama 30 jam tersebut.

Sekitar 400 lainnya dijatuhi hukuman penjara antara tujuh tahun hingga seumur hidup, sementara 270 dinyatakan tidak bersalah.

"Kekejaman mereka amat mengerikan sampai jenazah saja tidak mendapat haknya," tutur Mohammad Akhtaruzzman saat membacakan vonis di ibukota Dhaka, seperti dikutip kantor berita AFP.

Sebagian besar dari mereka didakwa dengan pembunuhan, penyiksaan, konspirasi dan dakwaan lainnya. Mereka sudah lebih dulu diputuskan bersalah dalam pengadilan militer.

Dikritik pegiat HAM

Sebanyak 74 orang tewas, termasuk 57 perwira militer, dalam pemberontakan yang berawal di markas besar unit senjata Bangladesh di Dhaka.

Jenazah beberapa perwira tinggi militer dilempar ke saluran pembuangan maupun dikubur dalam lubang yang dangkal.

Bangladesh
Pengawalan di pengadilan massal yang dikritik oleh kelompok pegiat HAM.

Pemberontakan dipicu oleh tuntutan kenaikan gaji dan berbagai keluhan lainnya.

Sekitar 6.000 tentara sudah lebih dulu dijatuhi hukuman penjara karena terlibat pemberontakan yang sempat menyebar ke beberapa pangkalan militer di negara itu.

Bagaimanapun kelompok pegiat hak asasi manusia, Human Rights Watch, pekan lalu mengkritik pengadilan massal Bangladesh karena dianggap tidak menjamin keadilan.

Kelompok itu juga mengangkat tewasnya 47 terdakwa di pengadilan dan terbatasnya akses mereka kepada penasehat hukum.

Pihak berwenang Bangladesh sudah menepis tuduhan tersebut.