Korsel ragukan manfaat bertemu Jepang

  • 4 November 2013
Presiden Park Geun-hye
Presiden Park Geun-hye sudah berkuasa selama delapan bulan dan belum bertemu sejawat Jepangnya.

Presiden Korea Selatan menekankan dalamnya jurang hubungan antara Korea dan Jepang di tengah kawasan yang terus disibukkan oleh ambisi nuklir Korea Utara itu.

Kepada BBC Presiden Park Geun-hye mengatakan tak melihat pentingnya pertemuan dengan penguasa Jepang kecuali kalau negeri matahari terbit itu bersedia minta maaf atas apa yang disebutnya sebagai "kesalahannya" di masa lalu.

Presiden Park menyatakan hal ini dalam sebeuh wawancara khusus menjelang lawatannya ke Inggris yang akan dimulai pekan ini.

Delapan bulan sejak terpilih sebagai presiden perempuan pertama negeri ginseng itu, Park belum juga secara resmi bertemu sejawatnya di Jepang, yang merupakan sesama karib AS di semenanjung Korea, sementara rencana menggelar KTT dua negara menurutnya masih terlalu dini dibahas.

"Faktanya adalah bahwa memang ada sejumlah isu yang membuat (hubungan dnegan Jepang) jadi rumit" Park mengakui.

"Contohnya adalah tentang perempuan budak seks. Perempuan ini menghabiskan masa muda mereka dalam penderitaan dan kekejaman, dan akhirnya sisa umur mereka dalam kehancuran."

"Dan belum ada satu kasus pun yang sudah dituntaskan atau ditangani; Jepang belum mengubah pandangan tentang hal ini. Kalau mereka tetap berpendapat seperti garis persepsi sejarah dan mengulang pernyataan lama mereka, lalu apa manfaat sebuah pertemuan puncak? Mungkin lebih baik tidak usah saja."

Sengketa pulau

Para budak seks perempuan ini menjadi salah satu isu yang paling memantik kemarahan publik Korea, seperti juga kemudian klaim atas gugusan Pulau Dokdo (yang disebut Pulau Takeshima di Jepang), yang terletak di perairan antara dua negara.

Sikap terbaru Tokyo yang blak-blakan dalam isu seperti ini telah menyebabkan munculnya riak dalam hubungan dengan negara lain di wilayah ini.

Sementara dengan perilaku Korea Utara yang terus mengembangkan sistem nuklirnya, peran kerja sama wilayah bisa jadi akan sangat mempengaruhi hasil akhir situasi di wilayah ini.

Terkait kebijakan terhadap negara komunis itu, Presiden Park mengatakan pola umpan dan imbalan yang selama ini menjadi model pendekatan terhadap Korea Utara harus dihentikan.

"Kita tidak boleh mengulang lagi lingkaran setan di masa lalu dimana ancaman nuklir Korea Utara justru diberi imbalan dan dibuai, kemudian diikuti dengan provokasi lanjutan kemudian ancaman baru lagi," tegasnya saat diwawancarai Wartawan BBC Lucy Williamson.

"Kita tak boleh lagi melakukan lingkaran setan itu… Kalau tidak Korea Utara akan terus melanjutkan kemampuan nuklirnya dan akhirnya nanti kita sampai pada satu titik yang akan makin sulit diatasi."