Pejabat tinggi Pakistan tahu pesawat tanpa awak

  • 24 Oktober 2013
Nawaz Sharif & Barack Obama.
Nawaz Sharif antara lain mengangkat isu pesawat tanpa awal saat bertemu Barack Obama.

Dokumen rahasia Amerika Serikat mengungkapkan beberapa pejabat tinggi Pakistan selama beberapa tahun mengetahui serangan pesawat tanpa awak.

Koran The Washington Post mendapatkan dokumen CIA dan memo diplomatik Pakistan yang mengindikasikan para pejabat tersebut secara rutin mendapat penjelasan rahasia.

Para pengamat selama ini memang menduga pemerintah Pakistan memberi persetujuan yang tidak dinyatakan secara terbuka, walau di depan umum mengecamnya.

Terungkapnya dokumen rahasia ini bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif, ke Washington yang antara lain ingin mendapatkan jaminan agar serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat segera dihentikan.

"Saya juga mengangkat isu pesawa tanpa awak dalam pertemuan, menekankan penghentian serangan seperti itu," kata Shaif usai bertemu dengan Presiden Barack Obama, Rabu (23/10).

Serangan pesawat tanpa awak yang diatur oleh CIA menjadi salah satu kerikil ganjalan dalam hubungan antara kedua negara.

Belum ada tanggapan

Pemerintah Pakistan belum memberi komentar atas dokumen yang diterbitkan oleh The Washington Post.

Juru bicara Kedutaan Besar Pakistan di Washington tidak memberi tanggapan atas permintaan komentar dari koran tersebut dan CIA juga menolak memberikan penjelasan.

Bagaimanapun pada Agustus 2008, Yousuf Raza Gilani yang masih menjabat perdana menteri dilaporkan tidak terlalu mempermasalahkan serangan itu.

"Saya tidak peduli mereka melakukannya jika mendapatkan orang yang tepat. Kami akan protes di Majelis Nasional dan kemudian melupakannya," tuturnya saat itu seperti dikutip berbagai media.

Walau beberapa pemimpin militan tewas akibat serangan pesawat tanpa awak, sejumlah korban sipil juga berjatuhan.

Dua organisasi hak asasi internasional, Amnesty International dan Human Right Watch mengecam serangan tersebut karena menyebabkan tewasnya korban, yang sama sekali tidak menjadi ancaman keamanan.

Sebelumnya PBB mendesak Washington agar menyerahkan data tentang serangan pesawat tanpa awak dan jumlah korban sipil.

Berita terkait