Turki dituding langgar HAM skala besar

  • 2 Oktober 2013
Protes di Turki
Pemicu awal demonstrasi di Turki adalah rencana pembangunan Lapangan Taksim dan Gezi.

Amnesty International menuduh pihak berwenang Turki melakukan pelanggaran hak asasi manusia skala besar ketika menumpas unjuk rasa antipemerintah beberapa bulan lalu.

Penyelidik Amnesty International mengatakan aparat keamanan menggunakan peluru tajam yang menewaskan seorang pengunjuk rasa. Beberapa pengunjuk rasa perempuan mengalami pelecehan seksual.

Dalam laporan yang diterbitkan Rabu ini (02/10), Amnesty International juga mengatakan para pemrotes dipukuli dan seorang di antara mereka meninggal dunia akibat pemukulan itu.

"Polisi menggunakan kekuatan dengan cara yang tidak saja tidak proporsional tetapi dengan cara yang sama sekali tidak perlu. Kekuatan tidak seharusnya digunakan terhadap pengunjuk rasa damai. Kami mendapati hal tersebut secara jelas di kota-kota seluruh Turki," kata Andrew Garnder, peneliti Amnesty, dalam jumpa pers di Istanbul.

Belum ada reaksi

Direktur Amnesty International untuk Turki, Murat Cekic, mengatakan pihak berwenang harus mengambil tindakan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab.

"Kami menyerukan kepada pemerintah Turki untuk segera menghentikan kekerasan oleh polisi yang brutal dan memalukan," kata Cekik.

"Dan kami meminta pemerintah Turki membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan dan segera menghentikan masalah terbebas dari hukuman, masalah terbebas dari hukuman yang kronis di Turki," tambahnya.

Hingga kini pemerintah Turki belum memberikan tanggapan atas laporan Amnesty International.

Pergolakan di Turki bermula dari protes damai menentang pembangunan kembali Lapangan Taksim dan Taman Gezi di Istanbul. Namun setelah aksi itu ditumpas oleh polisi, aksi dengan cepat berkembang menjadi demonstrasi menentang pemerintah selama berminggu-minggu.

Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan membela tindakan polisi dan menyebut pemrotes sebagai "teroris". Tetapi Wakil Perdana Menteri Bulent Arinc mengakui tindakan polisi terlalu berlebihan.

Arinc juga meminta maaf kepada pengunjuk rasa yang mengalami luka-luka dalam operasi polisi pada tahap awal.

Berita terkait