Seruan Paus agar menghormati pengungsi

  • 24 September 2013
Paus Fransiskus
Paus Fransiskus juga mengecam yang disebutnya sebagai 'buruh budak.'

Paus Fransiskus mendesak negara-negara menerima dan menghargai para pengungsi dalam pesan menyambut Hari Migran dan Pengungsi Dunia, Selasa 24 September.

Menurut Paus diperlukan perubahan sikap dari negara-negara penerima pendatang dan pengungsi.

"Pendatang dan pengungsi bukan pion dalam papan catur kemanusiaan," tegasnya dalam pesan yang dikirimkan ke sejumlah pemerintah dan lembaga internasional, termasuk PBB.

"Mereka adalah anak-anak, perempuan, dan laki-laki yang harus meninggalkan atau dipaksa meninggalkan rumahnya dengan berbagai alasan, yang juga punya keinginan yang sah untuk mengetahui dan memiliki."

Tak lama setelah ditahbiskan, Paus Fransiskus, yang terpilih menggantikan Paus Benediktus yang mengundurkan diri, sudah mengungkapkan keinginannya bahwa gereja untuk orang miskin.

Masalah sensitif

Dalam pesan Hari Migran dan Pengungsi Dunia, dia juga mengecam yang disebutnya sebagai buruh budak dan penyelundupan manusia.

Dia mengutuk perusahaan-perusahaan yang mengkspolitasi pendatang dan pengungsi, yang bekerja dengan upah rendah di sektor pertanian maupun secara gelap di pabrik-pabrik.

"Saat ini 'buruh budak' menjadi mata uang yang biasa," tuturnya.

Imigrasi merupakan masalah yang sensitif di Eropa dan Italia merupakan salah satu negara yang banyak menerima arus pengungsi dari negara-negara Afrika Tengah yang datang melalui laut.

Bulan Juli, Paus memilih Lampedusa -sebuah pulau keci di lepas pantai Sisilia yang menjadi tempat pendaratan para pengungsi- sebagai tujuan pertama dalam kunjugannya ke luar Roma untuk menarik perhatian atas nasib para pengungsi.

Masalah pengungsi juga menjadi salah satu isu penting dalam pemilihan umum Australia awal September, yang dimenangkan oleh Perdana Menteri Tony Abbott yang berjanji akan menerapkan kebijakan imigrasi yang lebih tegas.

Berita terkait