Rekaman video korban penculikan dirilis

  • 17 September 2013
Sandera AQIM
Para sandera seluruhnya berkebangsaan asing dari negara-negara Barat.

Sebuah rekaman video yang diduga dibuat oleh milisi sayap Al-Qaida di Afrika menunjukkan tujuh sandera Barat yang masih hidup.

Menurut kantor berita Mauritania, ANI, yang menjadi media penerima kiriman rekaman video tersebut, didalamnya nampak wajah empat warga Prancis yang diculik di sebuah lokasi tambang uranium Nigera tiga tahun lalu.

Seluruh sandera, termasuk seorang warga Belanda, Swedia, dan seorang warga Afrika Selatan, diculik di Mali utara November 2011 dan nampaknya dalam keadaan sehat.

Seperti rekaman video yang pernah dirilis sebelumnya, Kementrian Luar Negeri Prancis meyakini video tersebut asli.

ANI diduga menerima kiriman video ini dari jaringan al-Qaida di wilayah Magribi Afrika (AQIM).

"Dari analisis awal video ini nampaknya cukup asli dan menunjukkan bukti baru tentang keberadaan empat warga Prancis yang diculik di Arlit (Niger utara) pada 16 September lalu," kata juru bicara Kemenlu Prancis Phillippe Lalliot.

'Melakukan semuanya'

Tidak jelas kapan rekaman video tersebut dibuat, namun menurut ANI rekaman yang menyangkut keberadaan para sandera Prancis dibuat Juni lalu.

Dalam rekaman tersebut nampak warga Prancis Daniel Larribe, 61, mengatakan: "Saya dalam kondisi sehat tetapi diancam dengan kematian.''

Ia juga mengatakan otoritas Prancis bertanggung jawab atas nyawanya, lapor ANI.

Tak ada rincian lain kecuali bahwa ketiga warga Prancis lain adalah Pierre Legrand, Thierry Dol serta Marc Feret.

Sementara warga Belanda Sjaak Rijke, sandera Swedia Johan Gustafsson, dan korban penculikan berkebangsaan Afsel Stephen Malcolm diambil hampir dua tahun lalu dari sebuah tempat penginapan dekat Timbuktu.

Saat itu kelompok penculik menyerbu dan selain menculik mereka juga menewaskan seorang warga Jerman.

Ini merupakan rekaman video pertama yang ditayangkan sejak pasukan Prancis dikirim ke Mali Januari lalu di tengah ancaman milisi terkait al-Qaida yang mencoba menguasai ibukota Bamako.

Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan bulan Juli lalu kalau pemerintahnya "telah melakukan semuanya" dalam upaya membebaskan para sandera. Namun ia menolak berkomentar lebih lanjut karena khawatir memperburuk situasi "yang sudah sangat buruk".

Tak dirinci apakah yang dimaksud dalam berbagai cara yang ditempuh pemerintah Prancis itu termasuk dengan menawarkan uang tebusan kepada penculik.