Hun Sen kembali bertemu Sam Rainsy

  • 16 September 2013
Demo Kamboja
Aksi unjuk rasa merupakan satu-satunya cara mempertanyakan hasil pemilu di Kamboja.

Politisi yang bertikai di Kamboja menggelar pertemuan pada hari Senin (16/09), sehari setelah aksi unjuk rasa di Phnom Penh terkait hasil pemilu yang menyebabkan satu orang tewas.

Perdana Menteri Hun Sen yang telah berkuasa selama 28 tahun bertemu dengan pemimpin oposisi Sam Rainsy di Gedung Majelis Nasional.

Kelompok oposisi menuding partai berkuasa melakukan kecurangan meluas pada pemilu bulan Juli lalu.

Dalam aksi protes yang diikuti ribuan orang pendukung oposisi hari Minggu (15/09), sejumlah bentrokan terjadi sporadis di ibu kota Kamboja.

Pertikaian ini melibatkan sejumlah kelompok kecil pendukung oposisi dengan aparat dan terjadi pada siang hari.

Pada awal aksi unjuk rasa, Sam Rainsy sempat menyampaikan pidato dan aksi demo berlangsung tanpa kekacauan.

Dikuasai pemerintah

Bentrok yang melibatkan anggota kelompok oposisi ini mengakibatkan satu orang tewas.

Pegiat dan kelompok HAM setempat mengatakan korban tewas setelah ditembak di kepala.

Selain korban tewas ada enam korban lain yang mengalami luka dalam unjuk rasa kemarin.

Juru Bicara Kepolisian Kamboja kepada Reuters mengatakan polisi menggunakan gas air mata dan gas asap serta pentungan untuk membubarkan aksi unjuk rasa.

"Saya tidak tahu bagaimana dia tewas. Kami tidak menggunakan peluru tajam," katanya.

Laporan menyebut dalam pertemuan yang berlangsung di gedung Majelis Nasional itu, Hun Sen dan Sam Rainsy nampak berjabat tangan sebelum memasuki ruangan tertutup.

Keduanya juga bertemu pada hari Sabtu lalu namun gagal membuat kemajuan berarti.

Wartawan di Kamboja mengatakan protes merupakan satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menentang hasil pemilu karena Komisi Pemilihan Kamboja yang merupakan institusi pemerintah dikuasai calon yang kini berkuasa.

Komisi Pemilihan Kamboja sudah menetapkan partai PM Hun Sen (CPP) menang dengan perolehan 68 kursi sementara kubu Sam rainsy (CNRP) mengumpulkan 55 kursi.

Rainsy berulang kali menegaskan pemilu berlangsung curang dan ia menuntut digelar pemilu baru yang lebih independen.