Akui pembantaian, Bales minta maaf

  • 23 Agustus 2013
robert bales
Robert Bales dituduh membunuh 16 warga sipil, sembilan diantaranya anak-anak.

Tentara Amerika Serikat, yang mengamuk dan menewaskan 16 warga desa di Afghanistan tahun lalu, meminta maaf atas pembantaian itu dan menyebutnya sebagai "tindakan yang pengecut".

Pria berusia 39 tahun itu mengatakan dia mengalami "ketakutan yang hebat... dan keberanian" pada saat serangan pada tanggal 11 Maret 2012 itu.

Ayah dua anak mengaku bersalah pada Juni untuk menghindari hukuman mati.

Jika ia dijatuhi hukuman seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat, Sersan Bales bisa memenuhi syarat untuk dibebaskan pada 20 tahun kemudian.

"Saya benar-benar, benar-benar minta maaf kepada orang-orang yang keluarganya meninggal," katanya kepada sidang Kamis (22/08) di Pangkalan Bersama Lewis-McChord.

"Jika saya bisa membawa anggota keluarga mereka kembali, saya akan melakukannya dalam sekejap.

"Maaf saja tidak cukup tapi saya minta maaf."

Meragukan

robert bales
Sketsa suasana persidangan Bales.

Jaksa memperdebakan apakah dia benar-benar merasa menyesal. Mereka memutar rekaman panggilan telepon dipenjara saat Sersan Bales dan istrinya tertawa ketika mereka membahas kasus ini.

Namun para pengacara Bales mengatakan perdebatan sudah keluar konteks.

Bales mengatakan pada Kamis (22/08) bahwa dia marah kepada dirinya sendiri, mabuk-mabukan, dan menyembunyikan masalah pribadinya.

Dia juga meminum narkoba dan alkohol saat serangan tersebut.

Mantan pemain sepak bola profesional Marc Edwards muncul di pengadilan sebagai saksi karakter untuk dia.

Ia mengatakan Sersan Bales pernah menjadi "pemimpin yang luar biasa" ketika mereka di sekolah tinggi di negara bagian Ohio.

Awal pekan ini, juri mendengar secara rinci bagaimana Sersan Bales menyerang dua desa ketika tengah malam di provinsi Kandahar dan menembakan peluru ke sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Sembilan warga Afghanistan -yang diterbangkan oleh Angkatan Darat AS untuk menghadiri pengadilan militer- telah bersaksi tentang bagaimana serangan mengubah hidup mereka.

Di antara mereka adalah Haji Mohammad Wazir, yang kehilangan 11 anggota keluarganya, termasuk ibunya, istri dan enam anak. Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa pembunuhan itu "menghancurkan-nya".

Wazir menerima US$550.000 sebagai kompensasi dari pemerintah AS.

Total, hampir US$1 juta uang duka dibayarkan kepada keluarga korban atas insiden tersebut.