DPR Uruguay sahkan legalisasi mariyuana

  • 1 Agustus 2013
Legalisasi mariyuana
Legalisasi mariyuana di Uruguay dan Amerika Latin masih jadi perdebatan.

DPR Uruguay mengesahkan aturan untuk melegalisasi mariyuana. Dan jika aturan itu disetujui oleh Senat, maka Uruguay akan menjadi negara pertama yang memiliki aturan yang mengatur produksi, distribusi dan penjualan mariyuana.

Peraturan itu didukung oleh pemerintah Presiden Jose Mujica, yang mengatakan akan memindahkan keuntungan dari para pengedar narkoba dan mengalihkan para pemakai dari obat-obatan yang keras.

Dalam peraturan tersebut, hanya pemerintah yang diijinkan untuk menjual mariyuana.

Negara akan melaksanakan "pengawasan dan regulasi mulai dari impor, ekspor, perkebunan, budidaya, pemanenan, produksi, akuisisi, penyimpanan, komersialisasi dan distribusi kanabis dan produk turunannya".

Para pembeli harus didaftar dalam sebuah database dan harus berusia diatas 18 tahun. Mereka dapat membeli lebih dari 40 kg per bulan untuk lisensi khusus farmasi atau menanam sampai enam pohon di rumah.

Peraturan ini disetujui oleh 50 dari 96 orang anggota parlemen di majelis rendah setelah perdebatan selama 13 jam.

Anggota parlemen yang mendukung proyek ini yaitu koalisi Frente Amplio, yang merupakan mayoritas.

Aturan itu diharapkan akan disetujui oleh Senat, yang dikuasai oleh mayoritas kubu pemerintah sayap kiri.

Perdebatan

Jose Mujica
Presiden Jose Mujica mengatakan mariyuana harus didekriminalisasi.

RUU tersebut diusulkan oleh Menteri Pertahanan Eleuterio Fernandez Huidobro pada tahun lalu. Dia mengatakan "larangan terhadap narkoba akan menambah masalah baru di masyarakat dibandingkan obat-obatan itu sendiri.... dengan konsekuensi malapetaka".

Tetapi, Cardoso dari partai oposisi Colorado mengatakan "tidak ada negara di dunia yang konsumsi narkobaya berkurang karena legalisasi".

Politisi oposisi lain, Richard Sander, mengatakan meski aturan itu dibuat oleh dua majelis, dia akan menggalang petisi untuk membatalkannya.

Pemungutan suara di parlemen tersebut dilakukan ditengah debat mengenai legalisasi narkoba di Amerika Latin.

Sebuah kelompok yang terdiri dari mantan presiden dan tokoh masyarakat yang berpengaruh, termasuk Henrique Cardoso dari Brasil, Ernesto Zedillo dari Meksiko dan mantan pemimpin Kolombia Cesar Gaviria, telah menyerukan legalisasi mariyuana.

Tetapi, Paus Fransiskus mengkritik rencana legalisasi narkoba dalam kunjungannya ke Brasil pekan lalu.

Berbicara di klinik ketergantungan narkoba di Rio de Janeiro, Paus mengatakan "perlu untuk mengatasi masalah ini dari akarnya, penyalahgunaan obat, penegakan hukum, dan memberi pendidikan kepada anak-anak muda mengenai nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat, membela mereka yang mengalami kesulitan dan memberikan harapan bagi mereka dimasa depan".