BBC navigation

Pendukung Morsi tolak perintah bubar

Terbaru  28 Juli 2013 - 14:48 WIB
Pendukung Morsi

Kubu pendukung Morsi dibatasi dengan barikade menghadapi aparat.

Pendukung Presiden Mesir terguling Mohammed Morsi melawan ancaman pembubaran paksa yang datang dari penguasa militer setempat dan meneruskan aksi protes sambil duduk di Kairo, meski sudah ada puluhan pemrotes tewas dalam bentrokan melawan aparat.

Koordinator aksi protes dari kelompok Ikhwanul Muslimin sepanjang malam menyuarakan kalau mereka tak akan surut dari tuntutan agar Morsi yang dulingkan 3 Juli lalu dikembalikan pada posisisnya selaku presiden yang sah.

Menteri Dalam Negeri setempat telah memperingatkan para peserta aksi protes ini akan "segera" dibubarkan.

Juru bicara kelompok Ikhwanul Muslimin Gehad el-Haddad kepada BBC mengatakan "ratusan atau bahkan ribuan laki-laki, perempuan dan anak-anak" terlibat dalam aksi protes damai sekitar Masjid Rabaa al-Adawia.

"Apa pun yang terjadi pada presiden, kami akan tetap melanjutkan aksi protes. Jumlah kami bertambah tiap hari. Warga negara telah mengetahui siapa tiraninya serta apa bahaya kudeta militer dalam jangka panjang".

Wartawan BBC di Kairo Yasmine Abu Khadra, melaporkan kondisi dalam protes kini tenang dimana peserta aksi protes membuat barikade pengaman mereka sendiri.

'Akan bertahan'

Sepanjang Sabtu (27/07) malam sejumlah pemimpin ternama dari kubu Ikhwanul menyampaikan orasi berapi-api untuk menaikkan moral peserta aksi.

Menurut Abu Khadra, pesan dari pidato bersemangat itu adalah bahwa polisi dan tentara merasa terancam oleh aksi duduk ini dan karena itu lah mereka menembaki peserta, Sabtu.

"Mungkin butuh waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, lebih dari setahun - kami akan bertahan."

Gehad el-Haddad

Kementrian Kesehatan Mesir menyatakan catatan korban jiwa akibat bentrokan hari Sabtu mencapai 78 orang, meski catatan dari petugas medis independen menyatakan sekitar 100 orang terbunuh.

Jubir Ikhwanul Muslimin Haddad mengatakan ada tiga kelompok pelaku aksi kekerasan yakni "preman berpakaian buruk, polisi yang mengenakan tiga seragam berbeda serta polisi berbaju sipil".

Para peserta protes menurutnya juga akan meneruskan aksi mereka dengan tuntutan pengembalian jabatan Morsi: "Mungkin butuh waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, lebih dari setahun - kami akan bertahan."

Sementara Menteri Dalam Negeri Mohammed Ibrahim menyerukan agar pemrotes "berpikir logis" dan pulang ke rumah.

Menurutnya sejumlah warga di dekat komplek masjid tempat aksi berlangsung itu sudah menyampaikan gugatan keberatan dan ini akan merupakan alasan yang diklaim sah untuk melakukan aksi pembubaran paksa.

Pemerintah juga membantah menembaki para peserta protes Sabtu lalu, kecuali menembakkan gas air mata. Namun laporan ini dibantah oleh wartawan BBc Quentin Sommerville di Kairo yang menyebut kondisi para korban serta jumlah mereka yang sangat banyak sebagai indikasi aparat tidak hanya menggunakan gas air mata saja.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.