PBB: Anak-anak Suriah diikutkan dalam kekerasan

  • 4 Juni 2013
Kombatan anak Suriah
Laporan PBB menyebutkan 86 kombatan anak yang ikut pasukan pemberontak tewas.

Laporan PBB tentang pelanggaran hak asasi manusia di Suriah meyebutkan konflik di negara itu mencapai tingkat brutal dengan digunakannya anak-anak dalam kekerasan termasuk dalam pemenggalan.

Anak-anak dijadikan sandera, dipaksa untuk menyaksikan penyiksaan dan bahkan ikut serta dalam pemenggalan, kata laporan PBB itu.

Sejumlah anak-anak lain tewas karena ikut perang.

Laporan PBB itu mencatat 17 dugaan kasus pembantaian antara Januari sampai Mei tahun ini.

Komisi penyelidik PBB sejauh ini dilarang untuk masuk ke Suriah dan hanya mendapatkan laporan dari kesaksian warga dan tenaga medis di negara itu.

Dalam salah satu insiden serangan pasukan pemerintah di Sanamein, Deraa tanggal 10 April lalu, "anak-anak dipaksa menyaksikan penyiksaan atau pembunuhan orang tua mereka".

Dalam insiden lain April lalu, di Rastan, Homs, penjaga pos pemeriksaan "mengancam akan menembak dua anak perempuan berusia tujuh dan sembilan tahun yang menangis saat ayah mereka diinterogasi".

Anak ikut memenggal

Pasukan antipemerintah juga terlibat dalam penculikan dan pelanggaran hak anak lain, kata laporan PBB itu.

Salah satu insiden di dekat Deir al-Zor, laporan PBB itu menyebutkan adanya seorang anak yang ikut serta dalam memenggal dua tentara oleh pemberontak.

"Tayangan video menunjukkan seroang anak ikut serta dalam memenggal dua pria yang disandera," kata laporan itu.

"Menyusul penyelidikan, video itu diyakini asli dan pria yang dibunuh adalah tentara."

Laporan PBB tersebut menyebutkan 86 kombatan anak yang diikutkan oleh pasukan pemberontak tewas dalam konflik dua tahun. Setengah dari jumlah itu terjadi pada tahun ini.

Kekerasan seksual termasuk perkosaan juga terjadi pada wanita, dan banyak dilakukan oleh pasukan pemerintah.

Laporan organisasi dunia itu juga mengatakan pasukan pemerintah dan pemberontak melakukan kejahatan kemanusiaan dan kejahatan perang.

Para penyidik mengatakan ada bukti yang menunjukkan penggunaan senjata kimia dalam serangan oleh pasukan pemerintah.

Namun para penyidik tidak dapat mengesampingkan penggunaan senjata kimia oleh pihak oposisi.

Berita terkait