Upaya Sharif membentuk pemerintahan Pakistan

  • 13 Mei 2013
Pakistan
Pendukung Nawaz Sharif merayakan kemenangan namun memerlukan dukungan untuk membentuk pemerintahan.

Mantan Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif, sedang membahas penyusunan kabinet setelah menyatakan menang dalam pemilihan umum.

Hasil tidak resmi memperlihatkan partai pimpinannya, Liga Muslim, meraih kemenangan namun dia mungkin membutuhkan dukungan partai lain untuk bisa memerintah di Pakistan.

Wartawan BBC di Islamabad, Mike Wooldridge, melaporkan Sharif tampaknya akan menjabat kembali perdana menteri untuk yang ketiga kalinya.

Masa jabatan keduanya, 1997–1999, diakhiri dengan kudeta militer yang dipimpin Jenderal Pervez Musharraf, yang disusul dengan pengadilan sebelum dia mengasingkan diri ke Arab Saudi.

Para pejabat Liga Muslim mengatakan Sharif sedang melakukan pembicaraan dengan para anggota parlemen independen untuk membentuk pemerintahan.

Diperkirakan dia tidak perlu mencari dukungan dari partai yang saat ini berkuasa, PPP, maupun partai oposisi pimpinan Imran Khan untuk menyusun kabinet.

Partisipasi meningkat

Perdana Menteri India, Manmohan Singh, menyambut baik pemilu yang diharapkannya membawa 'babak baru' dalam hubungan kedua negara.

"PM menyampaikan selamat kepada Nawaz Sharif dan partainya atas kemenangan dalam pemilu Pakistan," tulisnya dalam pesan Twitter.

Dia juga mengundang Sharif untuk berkunjung ke India pada waktu yang disepakati bersama.

Sementara itu Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengungkapkan ucapan selamat kepada warga Pakistan dan menanti kerja sama dengan pemerintahan baru namun tidak menyebut nama Sharif.

Pemungutan suara Sabtu (11/05) secara umum dilaporkan berhasil walau masa kampanye dan pemungutan suara diwarnai gelombang kekerasan dan menyebabkan jatuhnya 24 korban jiwa.

Komisi pemilihan umum mengatakan partisipasi pemilih mencapai 60% atau naik pesat dari 44% pada tahun 2008 lalu.

Pemimpin partai oposisi, Imran Khan, sudah menyatakan kekecewaan atas dugaan kecurangan dalam pemilihan umum namun menyambut gembira tingginya angka keikutsertaan pemilih.

Sementara partai berkuasa, PPP yang beraliran sekuler, menderita kekalahan besar, antara lain karena tidak bisa berkampanye dengan bebas karena serangan Taliban.