BBC navigation

Baku hantam di parlemen Venezuela

Terbaru  1 Mei 2013 - 12:25 WIB
julio borges

Julio Borges, seorang oposan di parlemen terlihat terluka usai baku hantam.

Adu jotos berlangsung di parlemen Venezuela menyusul perselisihan pemilihan presiden.

Beberapa anggota parlemen terlihat berdarah dan memar usai baku hantam. Oposisi dan anggota parlemen pendukung pemerintah saling menuding sebagai pelaku yang memulai perkelahian.

Sebelumnya sebuah kebijakan diloloskan untuk menangkal hak anggota dewan untuk berbicara sampai mereka mengakui Nicolas Maduro sebagai presiden.

Hasil resmi menunjukkan Maduro unggul tipis atas kandidat oposisi Henrique Capriles, yang mendesak penghitungan ulang.

Komisi Pemilihan Nasional, CNE - yang menolak permintaan Capriles - Senin kemarin menyatakan Maduro menang dengan persentase nilai 1,49, atau lebih kecil dari 225.000 suara pemilih.

Keputusan dikeluarkan setelah CNE mengamandemen hasil akhir, dengan menghitung suara dari luar negeri.

Secara keseluruhan, 99,97% suara telah dihitung.

Angka awal menunjukkan kemenangan untuk Maduro, yang dipilih dalam pemilihan sebagai penerus mendiang Presiden Hugo Chavez.

'Dipaksa diam'

Selasa kemarin, oposisi mengatakan sejumlah anggota dewan diserang dan dilukai di parlemen - Majelis Nasional.

Salah satu anggota, Julio Borges, kemudian muncul di TV lokal dalam keadaan muka memar.

"Mereka bisa mengalahkan kami, memenjarakan kami, membunuh kami, tetapi kami tidak akan menjual prinsip kami,'' kata Borges.

"Tindakan ini membuat kami lebih kuat.''

Oposisi mengatakan dipaksa ''diam'' oleh Presiden Majelis Nasional Diosdado Cabello.

Sementara wakil pemerintah di parlemen justru menyalahkan oposisi yang memulai keributan.

"Hari ini, sekali lagi saya harus membela warisan Hugo Chavez"

Odalis Monzon

"Hari ini, sekali lagi saya harus membela warisan Hugo Chavez,'' kata anggota parlemen Odalis Monzon dikutip kantor berita Reuters.

Dia mengatakan bahwa dirinya dan sejumlah rekannya diserang dan dipukuli saat baku hantam.

'Mencuri kepresidenan'

CNE menyatakan Presiden Maduro sebagai pemenang dalam pemilu 15 April, setelah dia meraih apa yang disebut sebagai ''mayoritas yang tak dapat diputar''.

Dia diambil sumpah 19 April lalu, dan Capriles menuntut penghitungan suara ulang, tetapi CNE mengatakan tindakan tersebut secara hukum tidak memungkinkan dilakukan.

Bagaimanapun, CNE sepakat untuk melakukan audit sebagian, yang diperkirakan akan berlangsung hingga Juni. Selama proses audit, 56% suara akan diperiksa ulang.

CNE mengatakan 44% suara lainnya telah diperiksa langsung usai pemilihan.

Capriles pada Senin lalu mengatakan bahwa Maduro telah ''secara tidak sah mencuri kepresidenan''.

Dia memiliki batas waktu hingga 6 Mei untuk mengajukan tuntutan resmi ke Mahkamah Agung.

Capriles mengatakan bahwa dia ''tidak ragu bahwa perselisihan ini akan berakhir melalui sebuah badan internasional.''

Baik kubu Capriles dan Maduro meminta pendukung mereka untuk menggelar aksi massa pada tanggal 1 Mei, menimbulkan kekhawatiran akan berakhir dengan kericuhan.

Maduro sendiri mengatakan dia telah mengubah rute aksi massanya karena ''tidak ingin menimbulkan masalah''.

Tetapi oposisi mengatakan mereka terus menjadi target serangan pemerintah, dengan menyebut penahanan Jenderal pensiun Antonio Rivero sebagai buktinya.

Politisi oposisi tersebut didakwa dengan keterlibatan kriminal dan penghasutan setelah jaksa menyalahkannya dalam kekerasan pasca pemilihan umum.

Jenderal Rivero kini dilaporkan melakukan aksi mogok makan.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.