Polisi di Bahrain bentrok dengan pengunjuk rasa

  • 16 April 2013
bahrain
Laporan polisi mengatakan beberapa orang terluka dalam protes ini

Polisi di Bahrain menembakkan gas air mata dan terlibat bentrok dengan pelajar di sebuah sekolah di ibukota Manama.

Petugas menyerbu sekolah khusus lelaki Jabriya setelah para siswa melakukan protes untuk menuntut pembebasan seorang kolega mereka yang ditangkap hari Senin, kata para aktivis.

Sekitar 100 orang telah ditangkap bulan ini di tengah meningkatnya ketegangan menjelang ajang balap Grand Prix F1 di Bahrain hari Minggu (21/4).

Kesultanan Bahrain telah beberapa kali digoyang aksi antipemerintah sejak 2011.

Insiden paling akhir itu terjadi satu hari setelah sebuah bom mobil meledak di Manama, meski tidak ada korban.

Sebuah kelompok oposisi yang menyebut diri mereka gerakan 14 Februari telah menyatakan bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

Sejumlah aktivis mengunggah foto-foto kepulan asap yang berasal dari sekolah Jabreya ke situs mikroblog Twitter. Orang-orang yang berada di foto itu tampak memicingkan mata dan menutup wajah mereka.

Ada pula foto-foto yang menunjukkan puluhan tabung gas bekas gas air mata dan granat kejut. Sejumlah laporan yang belum dikonfirmasi mengatakan adanya korban luka.

Propaganda pemerintah

Seorang ayah, Mohamed Jaber, mendatangi sekolah itu untuk menjemput anaknya tetapi polisi memintanya untuk pergi.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan di akun Twitter mereka bahwa "polisi bertindak sesuai peraturan untuk mengatasi sekelompok perusuh di luar sekolah Jabriya."

Bentrokan pecah ketika polisi berusaha membubarkan aksi menuntut pembebasan Hassan Humidan, 17, yang ditangkap di sekolah itu pada hari Senin.

Aktivis dan dan pengunjuk rasa menyerukan agar pemerintah membatalkan penyelenggaraan Grand Prix karena catatan hak asasi manusia Bahrain sangat buruk.

Sedangkan bagi pemerintah, ajang balap F1 akan menunjukkan pada dunia bahwa setelah dua tahun dilanda kerusuhan kesultanan itu kini stabil.

Namun komite multipartai parlemen di Inggris pada hari Selasa meminta para sponsor dan pembalap untuk menarik diri dan meminta bos F1 Bernie Ecclestone membatalkannya.

Ketua komite itu di Bahrain, Andy Slaughter, mengatakan pada BBC, "Ada kaitan erat antara balap dan tindakan represif rezim yang menggunakan F1 untuk menormalkan situasi."

Slaughter menyebut balap itu "propaganda pemerintah", menambahkan bahwa "ironinya adalah minggu ini tingkat represi yang terjadi setiap minggu, ditingkatkan demi mengatakan bahwa situasi saat ini biasa-biasa saja."