AS tunda uji coba rudal balistiknya

  • 7 April 2013
Korea Utara
Korea Utara telah mengeluarkan ancaman serius kepada AS dan Korsel.

Pejabat Kementerian Pertahanan AS mengatakan Pentagon telah menunda uji coba rudal balistik antar benua yang akan berlangsung pekan depan.

Uji coba terhadap rudal yang diberi nama The Minuteman 3 ini ditunda karena mereka khawatir akan mendapat tanggapan yang salah dari Korea Utara dan berpotensi memanaskan konflik yang terjadi saat ini.

Uji coba itu kemungkinan akan ditunda hingga bulan Mei mendatang.

Pejabat Korea Selatan dan AS saat ini telah berupaya melakukan langkah yang dapat meredakan konflik di semenanjung Korea.

Korea Utara sebelumnya telah mengeluarkan ancaman keras yang tidak biasa sejak mendapat sanksi dari PBB pada bulan Maret lalu karena bersikeras melakukan uji coba nuklir mereka yang ketiga.

Negara itu mengancam akan melakukan serangan nuklir ke wilayah AS, mereka secara formal juga mengumumkan perang terhadap Korsel dan berupaya membuka kembali reaktor nuklir mereka sebagai langkah untuk menentang resolusi Dewan Keamanan PBB.

Pada hari Jumat lalu mereka telah memperingatkan kantor kedutaan besar negara asing di Pyongyang untuk segera mengevakuasi staf mereka.

Resiko ancaman

Negara itu mengatakan mereka tidak bisa menjamin keselamatan staff kedutaan negara asing jika terjadi perang.

Namun sejauh ini tidak ada langkah evakuasi yang dilakukan oleh kantor perwakilan negara asing di Korut.

AS saat ini telah mengirimkan dua pesawat pembomnya, B2 dan B52 serta sebuah kapal perang dengan anti rudal ke wilayah Korsel

Sementara Korut telah memindahkan salah satu misil ke kawasan pantai timur. Hal ini merupakan ancaman terhadap pangkalan mliter AS yang terletak di salah satu pulau Pasifik, Guam.

Peluru kendali Korut ini memang dikabarkan mempunyai kemampuan untuk membawa hulu ledak nuklir, namun sebagian pengamat meragukan jika negara itu telah berhasil mengembangkan hulu ledak nuklir bagi peluru kendalinya.

Sejumlah pengamat lain juga menilai ancaman Korut ini kemungkinan hanya untuk konsumsi domestik dan meningkakan posisi pemimpin baru negara itu, Kim Jong-un di dalam negeri.

Namun lantaran pemahaman terhadap politik dalam negeri Korut sangat terbatas sementara eskalasi ketegangan juga meningkat, sejumlah negara tampaknya tidak ingin mengambil resiko dari konflik di kawasan ini.

Berita terkait