BBC navigation

Malaysia tolak gencatan senjata Sultan Sulu

Terbaru  7 Maret 2013 - 19:04 WIB
Najib Razak

Razak (kedua dari kiri) bersama para petinggi berkunjung ke Felda Sahabat, dekat lokasi penyerbuan.

Malaysia menolak tawaran gencatan senjata pemimpin kelompok bersenjata Kesultanan Sulu dari Filipina yang menduduki Lahad Datu, negara bagian Sabah, untuk mengklaim wilayah itu.

Perdana Menteri Najib Razak mengatakan para anggota kelompok bersenjata dari Filipina itu harus menyerahkan diri.

"Kita menginginkan para militan menyerahkan diri tanpa syarat dan menyerahkan senjata-senjata mereka," kata PM Najib dalam jumpa pers di perkebunan kelapa sawit Felda Sahabat, Sabah, hari ini (07/03).

Perdana Menteri Malaysia menegaskan apabila mereka tidak menyerahkan diri maka militer akan memburu mereka sampai waktu yang tidak ditentukan.

"Kita telah memberikan waktu lebih dari tiga minggu dan menunda empat kali. Kita baru mengambil tindakan setelah mereka membunuh delapan polisi kita, jadi Malaysia menghormati hak asasi," kata Najib Razak.

Sebanyak 60 orang tewas

Protes di Malaysia

Pengunjuk rasa Malaysia membakar gambar Sultan Jamalul Kiram III di depan Kedutaan Filipina.

Sultan Jamalul Kiram III menyatakan gencatan sepihak mulai tengah hari waktu setempat dan menyerukan kepada Malaysia untuk melakukan hal serupa.

"Kita menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa pertama-tama sultan ingin menyelesaikan masalah ini secara damai," kata Abraham Idjirani, wakil klan Sultan Jamalul.

Sementara itu Kepala Kepolisian Malaysia Ismail Omar mengatakan 32 pengikut Sultan Sulu tewas dalam dua konfrontasi sejak Rabu kemarin.

Dengan bertambahnya korban, maka jumlah orang yang tewas sejak bentrokan akhir pekan lalu mencapai 60 orang, 52 warga Filipina dan delapan polisi Malaysia.

Ratusan anggot klan yang mengaku sebagai Klik tentara Kesultanan Sulu mendarat di Lahad Datu, Sabah, pada 12 Februari 2013 di bawah pimpinan saudara laki-laki Sultan Jamalul Kiram III.

Mereka ingin mengklaim kepemilikan wilayah di Sabah yang sebelumnya menjadi bagian dari Kesultanan Sulu.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.