Hukuman atas penyair Qatar dikurangi

  • 25 Februari 2013
Mohammed al-Ajami
Mohammed al-Ajami menegaskan puisinya tidak bermaksud untuk menyerang.

Hukuman atas penyair Qatar yang dituduh menghasut penggulingan pemerintah dikurangi dari seumur hidup menjadi 15 tahun penjara.

Selain tuduhan ingin menggulingkan pemerintah, Mohammed al-Ajami juga didakwa dengan menghina keluarga Kerajaan Qatar.

Ketika dibawa ke luar ruang pengadilan setelah sidang selesai, dia berteriak, "Tidak ada keadilan untuk soal ini."

Kelompok pegiat hak asasi mengecam dakwaan dan hukuman atas al-Ajami dengan menyebutnya sebagai serangan atas kebebasan mengungkapkan pendapat.

Mereka juga menyebutkan bahwa pengadilan al-Ajami berlangsung tidak seimbang dan digelar secara rahasia.

Kasus al-Ajami bersumber dari sebuah puisi yang dia tulis pada tahun 2010 yang mengkritik Emir Qatar, Sheikh Hamad al-Thani.

Diterbitkan di internet

Namun para pegiat yakin bahwa penguasa marah karena puisi yang ditulisnya tahun 2011 yang mengecam kekuasaan otoriter di kawasan Arab.

Dalam puisi berjudul Tunisian Jasmine atau Melati Tunisia,dia mengungkapkan dukungan atas revolusi di Tunisia dengan mengatakan, "Kita semua adalah Tunisia dalam menghadapi elite yang menekan."

Dia juga menyebut semua pemerintah negara-negara di kawasan Arab sebagai 'pencuri yang tidak pandang bulu'. Puisi ini, selain dibacakan, juga diterbitkan di internet.

Sebelumnya dia membacakan puisi yang mengkritik Emir Qatar di depan hadirin yang berjumlah kecil di rumahnya dan bukan di hadapan masyarakat umum.

Al-Ajami -ayah dari empat anak- tidak pernah membantah puisinya itu namun menegaskan maksudnya bukan untuk menyerang.

Kebebasan mengungkapkan pendapat nyaris tidak ada di Qatar, yang hingga saat ini tidak menghadapi pergolakan politik seperti di beberapa negara lain di kawasan Timur Tengah.

Amerika Serikat memiliki pangkalan militer di Qatar sehingga membuat hubungan keduanya agak menegang karena catatan hak asasi Qatar.