PM Tunisia bentuk pemerintahan baru

  • 7 Februari 2013
Protes di Tunisia
Warga Tunisia melakukan aksi protes menentang pembunuhan tokoh oposisi di negara mereka, Chokri Belaid.

Tunisia akan membentuk pemerintahan baru yang terdiri dari kelompok teknokrat non partisan untuk menjalankan roda pemerintahan negara itu hingga digelarnya pemilihan umum, kata Perdana Menteri Hamadi Jebali.

Jebali mengumumkan keputusannya itu tidak lama setelah peristiwa pembunuhan tokoh oposisi Tunisia, Chokri Belaid terjadi dan menimbulkan gelombang protes di sejumlah kota besar.

Sebelumnya politisi yang anti terhadap kelompok Islam, Chokri Belaid tewas akibat ditembak pada kepala dan lehernya saat berada di kota Tunis.

Peristiwa terhadap Belaid tercatat sebagai peristiwa pembunuhan bermotif politik pertama sejak gelombang perubahan di sejumlah negara Arab terjadi pada Januari tahun 2011 lalu.

Laporan menyebutkan Belaid ditembak oleh sejumlah orang yang mengendarai sepeda motor saat dia sedang menuju tempat kerjanya.

Sementara itu Perdana Menteri Jabali saat menyampaikan pidatonya di televisi mengatakan dia memutuskan untuk membentuk kabinet yang disebutnya sebagai kabinet yang berkompeten secara nasional dan tidak mempunyai afiliasi politik tertentu.

Menteri baru yang akan menduduki posisinya nanti menurut Jebali akan memiliki mandat terbatas untuk mengatur sejumlah urusan negara tersebut hingga pemilu yang akan digelar sesegera mungkin.

Menuntut mundur

Meninggalnya Chokri Belaid menimbulkan kemarahan warga diseluruh kawasan Tunisia.

Ribuan orang kemarin dilaporkan menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah tempat salah satunya adalah di depan kantor kementerian dalam negeri Tunisia.

Dalam aksinya para pengunjuk rasa mendesak pemerintah yang ada saat ini untuk mundur dan menyerukan dilakukannya revolusi baru.

Aksi unjuk rasa yang memanas dilaporkan telah memakan setidaknya satu korban jiwa di pihak petugas keamanan.

Seorang anggota polisi dilaporkan tewas saat terlibat bentrok dengan pengunjuk rasa dari kelompok oposisi di Tunis.

Untuk mengamankan unjuk rasa pemerintah Tunisia telah mengirimkan juga tentaranya, salah satunya ke kota Sidi Bouzid tempat lahirnya revolusi Arab dua tahun lalu.

Pengiriman tentara ke wilayah itu dilakukan sesaat sebelum PM Jebali mennyampaikan pidato pembentukan kabinet baru.

Sebelumnya Perdana Menteri Hamadi Jebali menyebut pembunuhan ini sebagai tindak terorisme dan menjadi pukulan bagi revolusi yang berhembus di negara-negara Arab.

"Ini merupakan tindak kejahatan, tindak terorisme tidak hanya kepada Belaid tetapi juga kepada seluruh Tunisia," kata Jebali.

Namun pernyataan itu belum mampu meredam kemarahan kelompok oposisi.

Kelompok oposisi Front Popular menyerukan aksi mogok nasional pada hari hari Kamis (07/02) untuk memprotes aksi pembunuhan Belaid.