Pengangkatan rahim di India diprotes

  • 6 Februari 2013
Warga di India
Beberapa perempuan mengaku ditakut-takuti akan mengalami kanker bila rahim mereka tidak diangkat.

Para aktivis di India mengatakan dokter-dokter yang tidak mengindahkan moral mengangkat rahim ribuan perempuan untuk mengeruk keuntungan dari operasi itu.

Wartawan BBC, Jill McGivering, melaporkan peningkatan jumlah pengangkatan rahim di India tampaknya bersamaan dengan menjamurnya klinik dan rumah sakit kecil swasta selama beberapa tahun terakhir.

Fasilitas kesehatan swasta itu mengisi kekosongan pelayanan kesehatan pemerintah terutama di daerah-daerah pedesaan.

Para aktivis menyerukan agar klinik dan rumah sakit swasta seperti itu dipantau dan diatur untuk memastikan masyarakat miskin tidak menjadi sasaran pemerasan, lapor Jill McGivering.

Prosedur pengangkatan rahim biasanya menelan biaya sekitar Rp2 juta.

Mengisi kekosongan

Beberapa perempuan yang telah menjalani pengangkatan rahim mengatakan kepada BBC bahwa klinik-klinik swasta memperingatkan mereka berpotensi menghadapi kanker apabila tidak menjalani operasi pengangkatan rahim.

Araddhya Mehtta, aktivis kesehatan dari lembaga amal Oxfam, mengatakan klinik-klinik kesehatan beroperasi seperti toko kecil.

"Klinik-klinik swasta ini beroperasi atas dasar keuntungan. Insentifnya adalah berusaha melakukan operasi dan prosedur sebanyak mungkin sehingga margin keuntungan meningkat. Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang dasar," kata Araddhya Mehtta.

Menteri Pembangunan Daerah Pedesaan Jairam Ramesh mengatakan klinik-klinik swasta mengisi kekosongan pelayanan kesehatan akibat gagalnya sistem kesehatan umum.

"Sistem kesehatan umum sudah gagal, Anda tahu, sistem publik tidak tersedia. Dan semua pengeluaran lari ke klinik-klinik swasta yang menyebabkan warga menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk mendapat pelayanan kesehatan dan mungkin menjalani perawatan melebihi keperluan," jelasnya.

Ia menambahkan pemerintah menerima kenyataan bahwa masih banyak langkah yang perlu ditempuh untuk mencegah warga menjalani operasi yang tidak diperlukan.