Pilpres Korea Selatan berlangsung ketat

  • 19 Desember 2012
pilpres korsel
Park Geun-hye akan menjadi presiden perempuan pertama di Korsel jika menang dari Moon Jae-in

Jutaan rakyat Korea Selatan memberikan suara mereka dalam pemilu presiden yang dinilai berlangsung ketat.

Park Geun-hye dari partai berkuasa Saenuri berusaha mencetak sejarah baru sebagai presiden perempuan pertama di Korea Selatan.

Tetapi ia menghadapi tantangan berat dari Moon Jae-in dari Partai Bersatu Demokrat yang selama ini selalu melampaui Park dalam jajak pendapat.

Siapa pun yang akan menggantikan Presiden Lee Myung-bak, yang akan mundur seperti disyaratkan undang-undang, setelah masa jabatan lima tahun.

Isu-isu ekonomi yang meliputi pemenuhan kesejahteraan dan penciptaan lapangan kerja telah mendominasi kampanye pilpres.

‘Era baru’

pilpres korsel
Warga Korsel dengan mengenakan pakaian tradisional memberikan suara mereka di Seoul

Pemungutan suara dibuka pukul 06.00 waktu setempat (04:00 WIB) dan akan ditutup 12 jam kemudian. Tiga stasiun televisi akan merilis jajak pendapat pasca pemungutan suara (exit poll) ketika TPS telah ditutup. Hasil resmi diduga baru akan dirilis Kamis.

Pemerintah Korea Selatan menjadikan hari pilpres sebagai hari libur agar rakyat dapat memberikan suara mereka tanpa hambatan.

“Meski hari ini dingin, saya berharap anda akan berpartisipasi dalam pemilu dan membuka era baru yang telah lama anda dambakan,” kata Park usai memberikan suaranya di Seoul.

Park Geun-hye adalah anak dari mantan penguasa militer Jenderal Park Chung-hee, seorang tokoh yang mentransformasi Korea Selatan menjadi negara yang sukses secara ekonomi pada 1961-1979, tetapi dituduh kejam memperlakukan orang-orang dengan pandangan politik berbeda.

Kedua orang tua Park dibunuh. Ibunya dibunuh oleh utusan Korea Utara pada 1974 dan ayahnya pada 1979 oleh pemimpin badan intelijennya sendiri.

Park, 60, September lalu meminta maaf atas pelanggaran-pelanggaran HAM selama masa jabatan ayahnya dan mengatakan ia akan menjadi “presiden bagi semua orang, yang hanya memikirkan kepentingan rakyat.”

Sedangkan Moon, seorang mantan pengacara HAM, pernah dipenjara karena memprotes rezim Jenderal Park.

Ia adalah mantan kepala staf di masa presiden sebelum Lee, yaitu Roh Moo-hyun, yang bunuh diri pada 2009 atas dugaan korupsi.

Dalam konferensi pers, Moon membahas dugaan korupsi dan inkompetensi yang menyelimuti partai Park.

“Krisis ini secara keseluruhan tidak akan usai dengan mengganti pemain. Kita harus mengganti seluruh tim,” kata pria berusia 59 tahun itu.