Pengakuan oposisi Suriah dibahas di Maroko

  • 12 Desember 2012
Pertemuan di Maroko
Lebih dari 100 negara menghadiri pertemuan Friends of the Syrian People di Marrakesh, Maroko.

Para menteri luar negeri dan pejabat tinggi dari 130 negara menghadiri pertemuan di Maroko untuk membahas krisis di Suriah dan dijadwalkan akan mendukung koalisi oposisi.

Selain menteri luar negeri dan pejabat senior, pertemuan di kota Marrakesh pada Rabu (12/12) itu juga dihadiri oleh sejumlah organisasi internasional guna membicarakan konflik yang telah melanda Suriah selama 21 bulan terakhir.

Negara-negara yang hadir diharapkan akan mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka mengakui koalisi oposisi sebagai perwakilan sah rakyat Suriah.

"Peserta mengakui Koalisi National sebagai wakil sah rakyat Suriah dan sebagai organisasi payung bagi kelompok-kelompok oposisi Suriah," demikian rancangan komunike resmi yang rencananya akan ditandatangani usai pertemuan seperti dikutip kantor berita AFP.

Wartawan BBC Christian Fraser, yang meliput pertemuan di Marrakesh, melaporkan Koalisi Nasional berharap sebagian besar negara yang hadir akan mengakui koalisi oposisi.

"Pengakuan itu penting, sesuatu yang diminta oleh jajaran kepemimpinan koalisi," lapor Fraser.

Dikecam Rusia

"Pengakuan memberi legitimasi kepada koalisi di dalam wilayah Suriah dan membuka jalan bagi negara-negara yang siap memberikan bantuan dan senjata yang diperlukan," jelas Christian Fraser.

Sebelum pertemuan yang dikenal dengan Friends of the Syrian People itu, Amerika Serikat mengakui koalisi oposisi sebagai perwakilan sah bagi rakyat Suriah.

Rusia mengecam keputusan Amerika Serikat yang mengakui koalisi oposisi Suriah sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat negara itu.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan tindakan Washington bertentangan dengan usaha menciptakan transisi politik di Suria dan sebaliknya, bertaruh pada kemenangan bersenjata kelompok-kelompok penentang Presiden Bashar al-Assad.

Sementara itu pemimpin koalisi oposisi Moaz al-Khatib mengatakan oposisi akan meminta pertanggungjawaban negara-negara di dunia, khususnya Rusia, bila Presiden Bashar al-Assad sampai menggunakan senjata kimia.