Pimpinan Hamas Meshaal kunjungi Gaza

  • 7 Desember 2012
Khaled Meshaal
Khaled Meshaal menjadi pemimpin Hamas di pengasingan sejak 2004 lalu.

Pemimpin Hamas yang mengasingkan diri, Khaled Meshaal, akan melakukan kunjungan pertama ke Gaza untuk hadir dalam peringatan ulangtahun organisasinya yang ke 25.

Meshaal akan bertemu dengan sejumlah anggota gerakan Palestina yang berbeda dan penduduk Gaza termasuk juga keluarga para militan yang tewas oleh Israel.

Kunjungannya dilakukan menyusul gencatan senjata yang mengakhiri kekerasan yang berlangsung antara Hamas yang berkuasa di Gaza dan Israel pada bulan lalu.

Kelompok militan Islam itu telah memerintah di Gaza sejak 2007 lalu.

Hamas disebut sebagai organisasi teroris oleh Israel, Uni Eropa dan AS.

Meshaal akan masuk ke Gaza melalui Mesir. Pejabat di perbatasan Rafah mengatakan istrinya telah tiba pada Kamis (6/12) malam.

Juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kunjungannya merupakan "buah dari kemenangan dari perlawanan terhadap pendudukan."

Sebuah pertemuan di gelar pada Sabtu bersamaan dengan kunjungannya selama tiga hari.

Meshaal mengatakan dia lahir di Tepi Barat pada 1956. Dia pindah ke Kuwait pada 1967 setelah perang Timur Tengah dan kemudian Yordania, dan dia mulai terlibat dalam Hamas dimulai.

Meshaal dipenjara di Yordania sebelum dibuang ke Qatar.

Dia menjadi pemimpin politik Hamas yang berada di pengasingan pada 2004, setelah pendirinya Sheikh Ahmed Yassin, dibunuh oleh Israel.

Reaksi Israel

Gaza
Gerakan intifada dilakukan Hamas untuk menentang pendudukan Israel.

Koresponden BBC mengatakan Israel - yang bersama dengan AS dan Uni Eropa menganggap Hamas sebagai organisasi teroris - tampaknya akan menutup mata berkaitan dengan kunjungan tersebut.

Menteri Luar Negeri Israel Yigal Palmor mengatakan bahwa Israel tidak berkomentar mengenai siapa yang memasuki Gaza dari Mesir.

"Kami tidak membeda-bedakan posisi individu di dalam Hamas," kata dia, seperti kantor berita AP.

"Hamas adalah Hamas adalah Hamas," kata dia.

Skeitar 170 warga Palestina dan enam Israel tewas pada serangan yang terjadi pada bulan lalu yang disebut merupakan balasan atas penembakan roket ke negara tersebut.

Hamas menyebut dirinya sebagai pemenang karena Israel sepakat untuk melakukan gencatan senjata.

Hamas didirikan pada 1987 setelah memulai aksi intifada menentang pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza.

Pekan lalu, Israel mengumumkan akan membangun ribuan pemukiman baru di Tepi Barat.

Tindakan itu dilakukan setelah majelis umum PBB memutuskan untuk mengakui Palestina sebagai negara pemantau bukan anggota.