Sembilan tewas akibat runtuhnya terowongan Jepang

Terbaru  3 Desember 2012 - 09:03 WIB
Kecelakaan terowongan sasago

Rekaman kamera CCTV menunjukkan bagian dinding terowongan yang ambruk.

Hingga saat ini polisi Jepang menyatakan sudah sembilan korban ditemukan tewas setelah proses evakuasi yang berlangsung sulit dilakukan di bawah runtuhan terowongan jalan di Sasago, 80km arah barat kota Tokyo yang menghubungkan ibukota Jepang itu dengan kota Nagoya.

Selain ambruk, dinding dan atap terowongan dari beton juga menimpa sejumlah kendaraan yang sedang melintas didalamnya sehingga kemudian penumpang tak bisa keluar, bahkan ada pula mobil yang terbakar dan mencelakakan penumpangnya.

Pada terowongan sepanjang 4,3 km itu, atap terowongan diduga ambruk pada kilometer dua.

Polisi dari Prefektur Yamanashi kesulitan melakukan evakuasi pada korban karena mengkhawatirkan terjadinya runtuhan berikut, sehingga upaya pemberian bantuan sempat dihentikan kemarin (Minggu, 2/12).

'Penopang beton ambruk'

Begitu diketahui ada insiden ini, aparat setempat juga langsung menutup jalan raya tersebut karena dikhawatirkan akan menimbulkan kecelakaan berikutnya.

Termasuk korban tewas adalah seorang sopir truk yang sesaat setelah kecelakaan sempat menelepon untuk minta bantuan.

"Beberapa jenazah sudah hangus di dalam (terowongan). Tetapi jumlah pasti korban tewas belum diketahui"

Juru bicara Kepolisian Yamanashi

Seorang juru bicara kepolisian setempat seperti dikutip kantor berita AFP mengatakan: "Beberapa jenazah sudah hangus di dalam (terowongan). Tetapi jumlah pasti korban tewas belum diketahui."

Menurut laporan wartawan BBC Rupert Wingfield Hayes di Tokyo, kondisi ini langsung memunculkan pertanyaan besar terkait standar kelaikan terowongan tersebut: mengapa jalur jalan yang begitu padat ternyata mengandung ancaman bahaya demikian besar.

Sejauh ini perusahaan sawsta pengelola jalan raya dan jalur terowongan tersebut, Nexco, menyatakan lokasi kecelakaan ini dinyatakan lolos uji rutin kelaikan dua bulan lalu dan dinyatakan layak dioperasikan.

Dugaan adanya pengaruh gempa, karena negeri Matahari Terbit itu sering menjadi sasaran gempa, juga dibantah karena tak ada guncangan bumi pada hari kejadian.

Menurut seorang pejabat Nexco, Motohiro Takamisawa, insiden fatal ini terjadi akibat kegagalan struktur bangunan.

Kepada kantor berita Reuters dia mengatakan: "Antara dua lempeng beton, ada benda yang menopang keduanya. Penopang inilah yang ambruk, tapi ini baru dugaan kalau melihat isi rekaman kamera keamanan."

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.