BBC navigation

Mogok kuliah di Jaffna karena kekerasan aparat keamanan

Terbaru  29 November 2012 - 19:36 WIB
Polisi memukulli mahasiswa di Jaffna, Sri Lanka.

Akso mogok kuliah dilakukan setelah polisi memukuli mahasiswa yang melakukan unjuk rasa.

Mahasiswa Universitas Jaffna di Sri Lanka utara, Kamis 29 November, memulai aksi boikot kuliah selama dua hari setelah kemarin bentrok dengan aparat keamanan.

Staf universitas menuduh pasukan keamanan yang memicu kekerasan saat berupaya membubarkan unjuk rasa yang berlangsung damai.

Namun militer mengatakan mereka bertindak untuk mencegah para mahasiswa melempari batu.

Kekerasan yang marak antara mahasiswa dan aparat keamanan pada Rabu (28/11) merupakan kekerasan politik terburuk sejak perang saudara di kawasan ini berhenti lebih dari tiga tahun lalu.

Sedikitnya 20 mahasiswa terluka karena dipukuli aparat keamanan dalam insiden tersebut dan pemerintah Amerika Serikat sudah mengeluarkan pernyataan keprihatinan atas serangan ini.

"Kami meminta pihak berwenang mengendalikan diri dan menghormati unjuk rasa damai," seperti tertulis dalam pernyataan Kedutaan Besar Amerika di Sri Lanka, Kamis (29/11), yang dikutip kantor berita AP.

Pekan pahlawan

Militer

Militer masih sering dikerahkan ke Jaffna untuk mendukung polisi setempat.

Sebelumnya polisi dilaporkan mendatangi asrama mahasiswa untuk mencari bahan-bahan yang disebut sebagai propaganda Harimau Tamil karena para mahasiswa memperingati hari lahir pemimpin Harimau Tamil, Velupillai Prabhakaran, pada 26 November.

Prabhakaran tewas dalam serangan tentara Sri Lanka ke kawasan Jaffna pada pertengahan Mei 2009.

Pemerintah Sri Lanka sudah mencabut status keadaan darurat di kawasan Semenanjung Jaffna setelah tercapainya kesepakatan damai dengan gerilyawan Harimau Tamil, Mei 2009.

Bagaimanapun militer dengan senjata berat masih sering dikerahkan untuk membantu polisi setempat.

Harimau Tamil memimpin perjuangan untuk kemerdekaan Semenanjung Jaffna -yang didominasi warga Tamil- selama 30 tahun lebih dan konflik dengan tentara pemerintah dalam perang saudara puluhan tahun itu diperkirakan sudah menewaskan 100.000 jiwa lebih.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.