BBC navigation

Tiga ABK Indonesia dipenjara di Australia

Terbaru  26 September 2012 - 16:12 WIB
Perahu di Pulau Christmas

Perahu SIEV 221 menghantam tebing batu di Pulau Christmas, Desember 2010.

Tiga warga negara Indonesia dijatuhi hukuman penjara lebih dari lima tahun di Australia setelah dinyatakan bersalah dalam kasus penyelundupan manusia.

Hakim Stephen Scott hari Rabu (26/09) menjatuhkan hukuman penjara kepada Abdul Rasjid, 61, Hardi Hans, 22 dan Supriyadi, 33. Ketiganya dinyatakan bersalah menyulundupkan manusia oleh Pengadilan Distrik Perth bulan Agustus lalu.

Ketiga anak buah kapal asal Indonesia itu dipenjara terkait perahu yang membawa sekitar 90 pencari suaka dan tenggelam di dekat Pulau Christmas pada Desember 2010. Akibatnya, sekitar 50 pencari suaka tewas dalam kecelakaan.

"Saya ingi menegaskan kepada Anda bahwa Anda akan dijatuhi hukuman sebagai dampak tenggelamnya perahu di Pulau Christmas dengan korban jiwa yang luar biasa besar," kata Scott seperti dikutip kantor berita AFP.

Abdul Rasjid yang bertindak sebagai kapten dijatuhi hukuman penjara lima tahun dan sembilan bulan dan setidaknya harus menjalani hukuman tiga tahun dan tujuh bulan sebelum boleh mengajukan pemotongan masa hukuman.

Jaket pelampung

Hardi Hans dan Supriyadi masing-masing dijatuhi hukuman maksimal lima tahun dan enam bulan dan tidak boleh mengajukan pemotongan masa hukuman sebelum menjalani hukuman setidaknya tiga tahun dan empat bulan.

Dalam sidang terungkap bahwa hanya ada 20 jaket pelampung di atas perahu dan ketiga ABK tersebut mengabaikan bahaya yang dihadapi para penumpang.

Mereka dilaporkan masing-masing dibayar Rp18 juta untuk mengantarkan para pencari suaka, antara lain dari Afghanistan dan Irak ke Australia.

Ali Khorram Heydarkhani, seorang pria Australia asal Iran yang dituduh mengatur perjalanan itu akan dijatuhi hukuman bulan depan setelah mengakui dakwaan yang dituduhkan kepadanya.

Pulau Christmas terletak sekitar 2.600 kilometer dari Australia tetapi hanya sekitar 300 kilometer dari Indonesia. Pulau itu sering digunakan sebagai pintu masuk pencari suaka ke wilayah Australia.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.