BBC navigation

WHO pantau virus mirip SARS

Terbaru  25 September 2012 - 08:34 WIB
corona virus spl credit

Dua kasus penularan terjadi di Timur Tengah

Para pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau virus pernafasan mirip SARS yang diyakini menjadi penyebab kematian seorang pasien di Arab Saudi dan mengakibatkan seorang pria berkebangsaan Qatar dalam kondisi kritis di London, Inggris.

Virus yang dikenal dengan nama virus korona ini berasal dari keluarga virus penyebab flu sebagaimana SARS, sindrom pernafasan akut yang pada 2003 menewaskan 800 orang di seluruh dunia, sebagian besar dari Asia.

Meski pun demikian, para ahli kesehatan belum memiliki cukup informasi untuk memastikan apakah virus ini berpotensi menjadi pembunuh massal seperti SARS atau hanya sekedar anomali.

WHO meminta dunia tetap tenang sambil menunggu para ahli menyelidiki virus tersebut termasuk pola penyebaran dan tingkat bahaya.

Seiring dengan datangnya musim haji di Arab Saudi bulan depan, WHO mengatakan mereka tetap siaga akan segala kemungkinan.

"Sebagaimana perlakuan terhadap virus baru apa pun, virus ini menjadi kekhawatiran kami dan kami memantaunya dengan teliti," kata juru bicara WHO Gregory Hartl, seperti dikutip kantor berita AP.

Pemerintah Arab Saudi telah mengutarakan kekhawatiran mereka pada WHO, seperti dilaporkan surat kabar setempat Saudi Gazette.

Sebelumnya, sejumlah wabah penyakit menyebar pada musim haji termasuk flu, meningitis dan polio.

Harus waspada

WHO juga masih meneliti apakah penyebaran virus ini sama cepatnya dengan SARS. Virus SARS ditularkan pada manusia oleh musang di Cina dan terbawa ke 30 negara. Pusat penyebaran saat itu berada di Hong Kong.

"Virus korona saat ini masih dalam tahap awal," kata Harlt. "Saat ini kami memiliki dua kasus sporadis dan ada banyak pertanyaan yang harus dijawab."

Sejumlah ahli kesehatan lain juga mengatakan meski saat ini tingkat bahaya virus belum diketahui, kewaspadaan harus tetap ada.

"Kita tidak tahu apakah hal ini akan menjadi seperti kasus SARS atau hilang begitu saja," kata Michael Osterholm, pakar flu dari Universitas Minnesota, AS. Ia mengatakan yang terpenting sekarang adalah menentukan rasio kasus dari skala ringan hingga berat.

Ia juga mengatakan hal yang mencemaskan adalah bahwa satu orang telah meninggal dunia.

"Flu biasa tidak akan membunuh anda," kata dia. "Hal itu memberi kita alasan untuk berpikir bahwa virus ini mungkin mirip dengan SARS yang membunuh 10 persen dari total pasien terinfeksi."

WHO mengatakan tidak ada alasan untuk menerapkan larangan bepergian ke Timur Tengah karena belum ada kasus baru yang muncul dan pola penyebaran juga masih belum jelas.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.