BBC navigation

Warga Pakistan 'diteror' pesawat tak berawak AS

Terbaru  25 September 2012 - 12:19 WIB

AS mengklaim serangan pesawat tak berawak efektif tewaskan militan.

Sebuah laporan AS menyebutkan warga sipil Pakistan ''diteror'' oleh serangan pesawat tak berawak CIA selama 24 jam.

Serangan pesawat tak berawak ini kebanyakan berlangsung di kawasan yang memiliki ancaman militansi rendah di kawasan barat laut Pakistan.

Para penyelamat yang merawat korban serangan juga tewas terbunuh dan terluka oleh serangan kedua pesawat tak berawak.

Amerika Serikat sendiri membela kebijakan serangan pesawat tak berawak yang diyakini berhasil menewaskan ratusan militan di Yaman dan Afganistan, termasuk di Pakistan.

Presiden Barack Obama mengatakan target serangan ditujukan kepada orang ''yang masuk dalam daftar teroris aktif''.

Para pemimpin senior al-Qaeda dan Taliban juga tewas akibat serangan pesawat tidak berawak ini.

Tetapi serangan ini juga turut menewaskan warga sipil, dengan jumlah korban yang sulit diverifikasi karena keterbatasan media independen yang dilarang masuk oleh otoritas kesukuan di dekat perbatasan Afganistan.

Dalam satu serangan paling terkenal, tokoh kesukuan dan pedagang lokal ikut menjadi korban saat 40 orang tewas ketika dua pesawat tak berawak menyerang sebuah mobil yang membawa sedikitnya empat militan di Datta Khel di Waziritan Utara, pada Maret 2011.

Bulan Juni tahun ini, seorang pemimpin senior al-Qaeda, Abu Yahya al-Libi, juga tewas dalam serangan pesawat tak berawak.

Kebijakan CIA

Serangan ini menyebabkan Komisioner HAM PBB Navi Pillay mempertanyakan legalitas kegiatan yang disebutnya ''berada diluar rantai komando militer''.

Kebijakan serangan pesawat tak berawak ini tidak dikeluarkan oleh militer, tetapi oleh badan intelejen AS, CIA.

Pillay juga mempertanyakan serangan yang ditujukan ke Pakistan yang tidak masuk dalam zona konflik bersenjata, seperti negara tetangganya Afganistan.

Menteri Pertahanan AS Leon Panetta membela kebijakan ini, dengan mengatakan AS akan terus mempertahankan diri mereka.

Awal tahun ini Presiden Obama bersikeras bahwa strategi ini ''tetap dilakukan dengan tali kekang yang kuat'' dan tanpa pesawat tak berawak, AS akan menghadapi ''lebih banyak aksi militer yang mengganggu.''

Trauma

Banyak korban sipil yang menjadi korban serangan pesawat tak berawak.

Meski laporan investigasi kantor berita AP di lapangan menemukan bahwa mayoritas yang tewas dalam serangan adalah para pejuang, tetapi dalam laporan terbaru yang dibuat Universitas Stanford dan Sekolah Hukum, Universitas New York memberikan kesimpulan yang berbeda.

Dalam laporan yang disebut ''melakukan wawancara dengan populasi lokal yang luas'', para penulis laporan mengatakan:

Anak-anak dibawa keluar dari sekolah dengan perasaan takut atas serangan pesawat tak berawak atau diganjar dengan kematian atau kehilangan anggota keluarga adalah ''bukti yang signifikan'' dari pelaksanaan ''serangan ganda'' yang menimbulkan ''peningkatan level ketakutan dan stres di lingkungan sipil''.

Serangan yang merusak properti juga menyebabkan kesulitan ekonomi dan trauma emosional bagi mereka yang terluka dan keluarga takut untuk menghadiri perkumpulan seperti saat pemakaman karena khawatir akan ada serangan lanjutan.

Kelompok HAM basis London Reprieve, mengatakan tengah mengambil langkah hukum sebagai upaya untuk memaksa pemerintah Inggris mengklarifikasi kebijakan berbagi intelejen dalam mendukung serangan pesawat tak berawak CIA.

Reprieve mengatakan mereka melakukan tuntutan hukum atas nama Noor Khan, yang ayahnya menjadi salah satu korban tewas dalam serangan Maret 2011 di Datta Khel.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.