Pertemuan Uni Eropa dan Iran membahas masalah nuklir

Terbaru  18 September 2012 - 19:47 WIB
Catherine Ashton dan Saeed Jalili

Catherine Ashton dan Saeed Jalili akan bertemu di Istanbul, Turki.

Pejabat urusan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, akan bertemu dengan ketua tim perunding nuklir Iran, Saeed Jalili, untuk memecahkan kebuntuan dalam program nuklir Iran, Selasa 18 September.

Juru bicara Ashton mengatakan bahwa pembicaraan di Istanbul, Turki, itu merupakan bagian dari upaya untuk berhubungan dengan Iran.

Teheran mengatakan Jalili akan menekankan hak negara itu untuk mengembangkan energi nuklir yang damai.

Pembicaraan antara Iran dengan kelompok negara yang disebut P5+1 -yaitu Amerika Serikat, Inggris, Cina, Rusia, dan Jerman- berakhir tanpa adanya terobosan.

Usai perundingan yang gagal itu, Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, mengatakan proposal yang diajukan Iran kepada mereka tidak bisa menjadi awal pembicaraan.

Dan juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Victoria Nuland, mengatakan pertemuan di Istanbul untuk mengukur apakah Iran bersiap untuk membawa sesuatu yang baru.

Nuland menambahkan bahwa kelompok P5+1 rencananya akan membahas masalah nuklir Iran di sela-sela sidang Majelis Umum PBB akhir bulan ini.

Desakan garis merah

Fasilitas nuklir Iran

Iran berulang kali menegaskan program nuklirnya untuk tujuan damai.

Hari Senin (17/09) Kepala Organisasi Energi Atom Iran mengatakan bahwa badan PBB untuk energi atom, IAEA, kemungkinan sudah disusupi oleh teroris dan penyabot yang bisa jadi justru mengambil keputusan di balik selubung IAEA.

Fereydun Abbasi-Davani mengutip insiden pada 17 Agustus ketika hubungan listrik dari kota Qom ke fasilitas pengayaan uranium di Fordo terputus menjelang kunjungan yang tidak direncanakan oleh para pengawas IAEA.

Komentar Abbasi-Dayani ini muncul setelah IAEA mengungkapkan keprihatinan yang serius bahwa Iran tetap menentang resolusi Dewan Keamanan PBB yang mendesak penundaan proses pengayaan uranium.

Hari Minggu (16/09) Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperingatkan bahwa Iran dalam waktu hanya sekitar enam atau tujuh bulan bisa memiliki 90% dari yang diperlukan guna mengembangkan bom nuklir dan mendesak Amerika Serikat menarik 'garis merah' yang jika dilanggar bisa mengarah pada intervensi militer.

Iran sudah menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai dan memperingatkan akan membalas jika diserang.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.