India blokir ratusan situs 'penyebar isu'

Terbaru  21 Agustus 2012 - 22:03 WIB
Pekerja di Bangalore

Para pekerja meninggalkan Bangalore, khawatir akan ada serangan terhadap mereka.

Pemerintah India melarang tak kurang dari 250 situs internet karena dianggap bisa memicu kekerasan agama, menyusul dugaan perlakuan buruk yang diterima kalangan Muslim di negara bagian Assam, India timur laut.

Para pejabat juga mengatakan mereka sedang melakukan pendekatan dengan dengan situs-situs populer seperti Facebook, Twitter, dan Google, untuk memblokir materi yang dianggap bisa memperkeruh suasana.

Pekan lalu, lebih dari 30.000 migran dari kawasan timur laut harus meninggalkan rumah mereka di kota-kota di India selatan, seperti Bangalore, Mumbai, dan Pune, karena khawatir munculnya serangan balasan.

Sejauh ini sekitar 300.000 orang mengungsi setelah pecah kekerasan yang melibatkan warga asli Bodo dan pendatang Muslim di Assam.

Pakistan

Sedikitnya 78 orang tewas dalam bentrokan antara warga Bodo dan pendatang Muslim dalam beberapa waktu terakhir.

India mengatakan kepanikan ini disebabkan oleh kabar burung yang menyebar melalui SMS, situs-situs jejaring sosial, sebagian besar di antaranya diperkirakan berasal dari Pakistan.

Pemerintah Pakistan telah meminta para pejabat India menunjukkan bukti tuduhan mereka.

Menanggapi pernyataan Pakistan, pemerintah India mengatakan bukti-bukti yang mereka miliki.

"Kita tidak tahu siapa yang menyebarkan pesan dan foto-foto ini. Memang sulit untuk menentukan siapa pelakunya. Namun dari beberapa foto kami terima, kami menemukan nama organisasi-organisasi (di Pakistan)," kata Menteri Dalam Negeri India RK Singh.

Perdana Menteri Manmohan Singh mengatakan mereka yang menyebar isu akan diajukan ke pengadilan.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.