BBC navigation

Korban banjir Manila bertambah

Terbaru  8 Agustus 2012 - 11:19 WIB
manila flood

Banyak warga Manila yang enggan mengungsi karena khawatir rumah mereka dijarah.

Setidaknya 16 orang tewas dalam banjir besar yang menghantam ibukota Filipina, Manila.

Lebih dari 80.000 orang mengungsi di tempat penanmpungan darurat, disaat hujan deras teru mengguyur kota.

Tentara dan tim penyelamat menggunakan perahu karet untuk mencapai warga yang bertahan di rumah mereka yang terendam banjir.

Kebanyakan warga menolak diungsikan karena khawatir rumah mereka dijarah.

Banjir yang mencapai ketinggian leher orang dewasa di sejumlah kawasan di kota juga membuat otoritas setempat menutup kantor dan sekolah.

Di daerah terparah dilaporkan, sembilan orang dari satu keluarga tewas akibat rumah mereka diterjang tanah longsor di Kota Quezon.

Lebih dari setengah ukuran normal yang biasa terjadi di bulan Agustus telah mengguyur Manila selama 24 jam, dimana kepala badan penanggulangan bencana nasional menyebut situasi saat ini seperti sebuah ''dunia air''.

Kekhawatiran penjarahan

Presiden Benigno Aquino dalam pidatonya mendesak warga untuk bekerja sama, dengan memperingatkan bahwa pemerintah tidak memiliki ''kemampuan yang tidak terbatas'' untuk mengatasi bencana alam.

Banyak warga yang terlantar di rumah mereka di penjuru kota. Wartawan BBC di Manila mengatakan, meski tentara, polisi dan tim penyelamat berupaya mengevakuasi mereka menggunakan perahu karet, tetapi sejumlah warga menolak untuk diangkut dengan alasan khawatir barang berharga mereka akan dijarah.

Otoritas memperkirakan hujan lebat masih akan berlangsung dan mendesak warga untuk mengutamakan keselamatan terlebih dahulu.

Manila dan kawasan utara Filipina baru saja menderita akibat badai Saola yang berlangsung sepekan lalu, menewaskan lebih dari 50 orang.

Pemerintah dalam bencana kali ini terlihat lebih siap, dengan mengevakuasi puluhan ribu orang.

Badai memang sering menghantam Filipina dalam beberapa tahun terakhir.

Topan Ketsana pernah menghantam Filipina pada September 2009, menyebabkan banjir yang menewaskan lebih dari 400 orang dan Badai Nestat dan Nalgae berlangsung dua tahun kemudian, menewaskan 100 orang.

Hujan dan banjir saat ini disebut-sebut yang teburuk sejak tahun 2009. Bagaimanapun, otoritas cuaca setempat menyatakan kondisi cuaca mungkin akan membaik akhir pekan ini.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.