Pertempuran dekati Damaskus, warga mulai panik

Terbaru  17 Juli 2012 - 08:38 WIB

Kelompok pemberontak mengklaim, pertempuran sengit makin mendekati Damaskus.

Sebagian warga Damaskus di wilayah selatan mulai terlihat panik dan takut ketika bentrokan sengit kelompok pemberontak dan pasukan Suriah dilaporkan semakin mendekati ibukota dan pusat pemerintahan.

Seorang warga, yang tinggal di selatan Damaskus, mengatakan kepada wartawan BBC, sebagian warga terlihat tegang, takut dan gugup, sehingga mereka memilih tinggal di dalam rumah.

"Ini terutama terlihat di selatan kota yang dikepung kelompok pemberontak... Hanya sedikit orang berani keluar rumah. Ini benar-benar tidak seperti kota yang normal..," papar warga tersebut.

Sejumlah laporan menyebutkan, pasukan Suriah yang diangkut dengan kendaraan lapis baja terus dikerahkan menuju kawasan bentrokan di selatan Damaskus, kata seorang dari kelompok pemberontak.

Beberapa saksi mata mengatakan, pengerahan pasukan militer Suriah pada hari kedua pertempuran di sekitar Damaskus merupakan terbesar semenjak kelompok oposisi menentang rezim Bashar al-Assad 16 bulan silam.

Disebutkan pula, pasukan Suriah telah memasuki jalan-jalan utama di distrik Midan, yang banyak dihuni orang-orang beraliran Islam Sunni, untuk menggempur kelompok pemberontak.

Pegiat HAM yang selama ini mengamati krisis Suriah mengatakan, selama ini rezim di Suriah belum pernah mengerahkan kekuatan militernya secara penuh di kawasan Midan.

Saat pasukan Suriah menyerbu Midan, seperti dilaporkan kantor berita AFP, "ada banyak orang terluka dan tewas...," kata seorang kelompok pemberontak.

Seorang pemberontak lainnya, Mustafa Osso, mengatakan kepada kantor berita AP, "jalan utama dari arah selatan menuju bandar udara internasional Damaskus ditutup".

Walaupun belum bisa diklarifikasi, rekaman video yang diunggah di situs-situs media sosial menunjukkan pertempuran di wilayah Kfar Sousa dan Midan, yang memperlihatkan asap hitam dan bunyi tembakan.

Sekjen PBB di Cina

Kelompok pemberontak menguasai Al Tadamun di selatan ibukota Damaskus.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan upaya Barat untuk meminta Moskow membicarakan sanksi terhadap Suriah mengandung "elemen pemerasan."

Hal itu ditegaskan Lavrov saat Utusan khusus PBB Kofi Annan berada di Moskow dan diperkirakan akan mendesak Rusia untuk menekan para pemimpin Suriah guna memulai transisi politik.

Rusia memiliki hubungan dekat dengan Suriah dan telah memveto seruan campur tangan asing.

Lavrov mengatakan Barat mengancam untuk mengakhiri misi pengawaasan PBB bila Rusia menolak rancangan resolusi perdamaian tentang Suriah.

Sementara itu, Sekjen PBB Ban Ki-moon juga diharapkan dapat mengangkat persoalan krisis di Suriah dalam pertemuannya dengan pemimpin Cina, ketika dia tiba di Beijing untuk menghadiri pertemuan puncak Cina-Afrika.

Seperti Rusia, Cina juga memveto resolusi PBB yang menyerukan campur tangan asing dalam persoalan Suriah.

Semenjak kelompok oposisi menyatakan perlawanannya terhadap rezim Bashar al-Assad sejak Maret 2011 lalu, sekitar 16.000 orang diperkirakan telah tewas.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.