Singapura akan revisi hukuman mati kasus narkotika

Terbaru  10 Juli 2012 - 13:37 WIB
singapore children

Singapura mengatakan hukuman mati membuat negara lebih aman

Singapura berencana merevisi hukuman mati bagi pelaku kejahatan narkotika dan pembunuhan.

Berdasarkan rencana perubahan itu, pengadilan dapat memiliki hak 'kerahasiaan' dalam menjatuhkan hukuman bagi kurir narkotika yang bekerja sama dengan polisi.

Sedangkan dalam kasus-kasus pembunuhan, hukuman mati wajib hanya akan diterapkan jika pembunuhan dilakukan secara berencana.

Semua rencana eksekusi ditunda sejak Juli 2011 sebagai bagian dari peninjauan satu tahun.

Undang-undang ini diharapkan dapat diperkenalkan pada publik di akhir tahun dan para narapidana yang sudah divonis hukuman mati dapat mengupayakan vonis ulang.

Pengadilan dapat menjatuhkan hukuman secara rahasia jika pelaku divonis seumur hidup atau dicambuk, selama "dua syarat utama terpenuhi," kata Deputi Perdana Menteri Teo Chee Hean.

Kedua syarat itu adalah bahwa pelaku hanyalah seorang kurir dan tidak terlibat dalam penyediaan atau distribusi narkotika, dan jika pelaku bekerja sama dengan polisi atau menderita gangguan mental.

Namun, hukuman mati wajib akan tetap berlaku dalam kasus-kasus tertentu, terutama bagi mereka yang membuat atau memperdagangkan obat dan mereka yang mendanai, mengorganisir perdagangan narkotika, kata Teo yang juga sekaligus menjabat sebagai menteri dalam negeri.

Dalam kasus-kasus pembunuhan, hukuman mati hanya akan berlaku dalam kasus-kasus dimana kejahatan dilakukan secara berencana, kata Menteri Hukum K Shanmugan di hadapan parlemen.

'Arah yang benar'

shadrake

Alan Shadrake mengatakan revisi hukum itu bergerak ke arah yang benar

Saat ini ada 35 narapidana yang menunggu eksekusi, 28 untuk kejahatan narkotika dan tujuh untuk pembunuhan.

Hukuman mati akan tetap menjadi 'bagian integral' dari sistem peradilan kriminal, kata Shanmugam.

"Di saat yang sama, pengadilan akan diberikan lebih banyak kerahasiaan dalam penerapannya."

Singapura menyatakan bahwa hukuman mati membuat angka pembunuhan di negara itu terendah di seluruh dunia dan perdagangan narkotika masih dalam tingkat yang terkendali.

Tetapi, kritikus dan aktivis hak asasi manusia mengatakan hukuman mati di negara pulau itu terlalu berat.

Penulis Inggris Alan Shadrake mengkritik peraturan itu dalam bukunya "Once A Jolly Hangman: Singapore Justice in the Dock."

Ia divonis penjara enam minggu dan dikenakan denda oleh pengadilan Singapura tahun lalu.

"Ini bukanlah akhir hukuman mati. Tetapi lebih pada bergerak ke arah yang benar yang tidak diperkirakan orang," kata Shadrake pada kantor berita Reuters melalui telepon dari Malaysia yang menjadi basisnya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.